10 Film Nasional yang Eksis di Festival Internasional 2015

10 Film Nasional yang Eksis di Festival Internasional 2015

WinNetNews.com - Seperti tahun-tahun sebelumnya, sepanjang 2015 banyak film karya sineas Indonesia yang berkiprah dan bahkan berjaya di berbagai ajang festival internasional. Salah satu yang gaungnya terdengar ialah film hitam putih berjudul 'Siti' yang kemudian juga memenangkan piala sebagai Film Terbaik di FFI.

Tak hanya film panjang, tahun ini film pendek pun berbicara di festival dunia. Berikut daftarnya.

1. Filosofi Kopi

'Filosofi Kopi' tak hanya mendulang kesuksesan di Tanah Air. Film arahan Angga Dwimas Sasongko ini juga wara-wiri di kancah internasional. Film ini mendapat kesempatan diputar di Taipei Golden Horse Film Festival 2015 yang berlangsung di Shin Kong Cinemas 1, Taipei, pada 7 dan 9 November lalu.

'Filosofi Kopi' juga diundang untuk ditayangkan di South Social Film Festival, ajang festival film di London, Inggris. Film yang diadaptasi dari buku kumpulan cerpen karangan Dewi Lestari ini juga menjuarai kompetisi film bertajuk World Premieres Film Festival (WPFF) di Manila, Filipina.

2. A Copy of My Mind

Kisah cinta sepasang manusia kelas pinggiran besutan sutradara Joko Anwar juga menarik mata pecinta film di luar negeri. Film yang dibintangi Chicco Jerikho dan Tara Basro ini bersanding dengan sejumlah film asing di ajang Contemporary World Cinema.

'A Copy of My Mind' yang dijadwalkan rilis di Tanah Air Februari 2016 mendatang juga melenggang ke Venice Film Festival, Toronto International Film Festival, juga Busan International Film Festival.

Sang sutradara, Joko Anwar, sendiri juga dinobatkan sebagai sutradara terbaik di ajang FFI 2015 lalu. Tak hanya sampai di situ, 'A Copy of My Mind' juga membawa Tara Basro ikut membawa pulang Piala Citra di kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI.

Berkesempatan diputar di ajang JAFF 2015 lalu di Yogyakarta, tiket nonton 'A Copy of My Mind' ludes dipesan dalam 30 menit.

3. Tabula Rasa

Film karya sineas Adriyanto Dewo ini diputar di ajang Festival Film Antipodes yang biasanya banyak memutar film asal Australia dan Selandia Baru. Sebelumnya 'Sang Penari' juga pernah ditampilkan di festival film te rsebut.

'Tabula Rasa' bercerita tentang sosok Hans seorang pemuda asal Papua yang memiliki mimpi menjadi pesepakbola profesional. Namun nasib berkata lain, dan ketika harapannya pupus, ia bertemu dengan Mak, pemilik rumah makan Padang (lapau).

Di tengah perbedaan Hans dan Mak, mereka menemukan persamaan dan kembali menemukan mimpi serta semangat hidup. 'Tabula Rasa' dibintangi oleh Jimmy Kobogau dan Dewi Irawan.

4. Diana Sendiri Diana (Following Diana)

Film pendek karya Kamila Andini ini menjadi salah satu film yang juga mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. 'Diana Sendiri Diana' berkesempatan diputar di Toronto International Film Festival Short Cuts Program pada September 2015 lalu.

Mengangkat isu tentang poligami, 'Sendiri Diana Sendiri' diputar diantara 39 film pendek lainnya dari 40 negara.

5. The Fox Exploits The Tiger's Might

Dari 'Madame X', Lucky Kuswandi menggarap cerita yang lebih 'berat'. Yakni tentang relasi seksualitas dan kekuasaan. Cerita yang dikemas dalam film pendek berjudul 'The Fox Exploits The Tiger's Might' itu pun diperhitungkan di ajang internasional dalam kompetisi Semaine de la Critique, Cannes Mei 2015 lalu.

Di ajang FFI 2015 kemarin, film ini juga membawa pulang piala Citra untuk kategori Film Pendek Terbaik. Tak sampai disitu saja, 'The Fox Exploits The Tiger's Might' juga diganjar dua Silver Screen Awards kategori Film Pendek Terbaik Asia Tenggara dan Sutradara Terbaik di ajang Singapore International Film Festival (SGIFF) ke-26 belum lama ini.

Meski tak bisa tayang di bioskop tanah air namun dua prestasi itu tentunya amat membanggakan. Silver Screen Awards adalah ajang tahunan yang berfokus memberikan perhatian pada film-film dan penemuan bakat-bakat baru di dunia film di Asia.

 

6. Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto

Kisah salah satu tokoh pendiri bangsa, HOS Tjokroaminoto, diputar di Tokyo International Film Festival, Jepang, akhir Oktober lalu. Film arahan sutradara Garin Nugroho ini diberi judul The Hijra saat ditayangkan dalam screening festival tersebut.

7. Pendekar Tongkat Emas

Film karya sutradara Ifa Isfansyah ini tayang di ajang Bucheon International Fantastic Film Festival. Festival tersebut merupakan gelaran tahunan yang diadakan di Korea Selatan bulan Juli lalu. Tak sendiri, dua film Indonesia lain juga ikut diputar di antaranya 'Tabula Rasa' dan 'Filosofi Kopi.

8. Mencari Hilal

Film karya sutradara Ismail Basbeth ini masuk dalam Tokyo International Film Festival Asian Future Program, pertengahan Oktober 2015 lalu. 'Mencari Hilal' yang kemudian judulnya diubah menjadi 'The Crescent Moon' itu diadu dengan 9 film asing lainnya.

Sayang film ini kurang mendapat sambutan baik dari publik. 'Mencari Hilal' yang dibuat dengan modal Rp 3 miliar ini hanya meraup 12 ribu penonton saja saat penayangan di bioskop Tanah Air di momen Lebaran lalu.

9. 'Aach... Aku Jatuh Cinta'

Dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Pevita Pearce, 'Aach...Aku Jatuh Cinta' tayang perdana di Busan International Film Festival (BIFF) Oktober lalu. Di ajang 'A Window of Asian Cinematic' BIFF 2015, film yang mengambil latar drama komedi romantis tahun 70-an itu dijadwalkan tayang sebanyak tiga kali, pada tanggal 5, 6 dan 9 Oktober.

Film yang disutradarai juga ditulis skenarionya oleh Garin Nugroho ini bercerita tentang hubungan Yulia dan Rumi. Dua sahabat yang bertetangga sejak kecil dan tumbuh bersama melewati tiga zaman. Permasalahan sosial hingga keluarga kemudian mengubah cara pandang keduanya terhadap komitmen dan cinta.

10. Siti

Film karya sutradara Eddie Cahyono ini diganjar Piala Citra di ajang FFI 2015 lalu. 'Siti' unggul di kategori Film terbaik mengalahkan'A Copy of My Mind', 'Guru Bangsa Tjokroaminoto', 'Mencari Hilal', dan 'Toba Dreams'. Sayangnya sampai saat ini belum ada kabar mengenai penayangan film ini di bioskop.

Jadi, berapa film dari kesepuluh film hebat ini yang sudah Anda tonton? Jangan hanya berkoar bahwa 'film lokal jelek isinya cuma horor-sex-paha-dada' saja ya, kalau menonton satu dari kesepuluh film ini saja belum pernah. Selamat menonton film Indonesia! ^_^v.

(dilansir dan disempurnakan dari detik)