1191 Orang Yang Terlibat Kerusuhan Piala Presiden Diamankan Polisi

1191 Orang Yang Terlibat Kerusuhan Piala Presiden Diamankan Polisi

WinNetNews.com - Sekitar 1.191 orang ditangkap oleh Polda Metro Jaya terkait dengan insiden yang terjadi pada final Piala Presiden 2015 di GBK, Senayan Minggu (18/10/15) malam. Ironisnya, mayoritas oknum yang ditangkap adalah anak-anak di bawah umur.

"Sudah dipelajari bahwa mereka banyak berumur tanggung dan mereka ikut-ikutan karena media sosial. Pengirimnya tidak jelas, ada juga yang berbau provokatif," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Tito Karnavian kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (19/10/2015).

Sementara itu, Febrianto (37) yang merupakan Sekjen The Jakmania diamankan polisi ketika berada di rumahnya yang terletak di Kebayoran Lama, Jaksel. Polisi memiliki bukti ada dugaan pidana. Saat ini status Febri masih terperiksa.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Tito Karnavian mengatakan, Febri tidak memprovokasi tetapi mengetahui. "Ada ajakan, SMS, setidak-tidaknya memahami," kata Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (19/10/2015).

Tito menjelaskan, pihaknya menangkap Febri setelah polisi melakukan penyelidikan IT. Polisi juga sudah memiliki bukti-bukti permulaan yang cukup.

"Ada bukti permulaan setidak-tidaknya mengetahui. Ini tanpa melepaskan unsur praduga tak bersalah, ada teman-teman cyber Polda mendapatkan indikasi bawha yang bersangkutan mengetahui dan memahami ada aksi anarkis pada kelompok Bobotoh. Nah ini yang sedang didalami," jelasnya.

Tito menambahkan, jika polisi mendapatkan bukti tambahan, maka akan diilakukan proses hukum termasuk penahanan. "Kalau tak ada bukti tambahan, satu alat bukti saja akan dilepaskan. Belum kita putuskan sekarang," tutupnya.

Sementara terkait dengan oknum pelaku kerusuhan yang mayoritas terdiri dari anak-anak dibawah umur, pihak kepolisian saat ini masih mendalami dugaan perencanaan dalam kericuhan tersebut. Sebab insiden tersebut terjadi secara sporadis di beberapa lokasi di Jakarta.

Terhadap anak-anak yang tidak terbukti melakukan tindak pidana, polisi mengembalikannya kepada orangtuanya masing-masing. Tetapi untuk yang terbukti melakukan tindak pidana, tetap diproses secara hukum.