(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

3 Perusahaan Dicabut Izinnya dan 7 Perusahaan Dibekukan, Efektifkah Cara ini?

Rani
Rani

3 Perusahaan Dicabut Izinnya dan 7 Perusahaan Dibekukan, Efektifkah Cara ini?

WinNetNews.com - Kebakaran hutan terus terjadi di Indonesia.Pemerintah berdalih telah melakukan segala upaya untuk mengatasi kebakaran lahan. Namun kebakaran yang terjadi malah semakin meluas. Segenap upaya telah dilakukan, mulai dari pembuatan kanal hingga bantuan water bombing oleh pesawat asing, semuanya tak berbuah hasil yang berarti. Memang kabut asap sempat pergi, namun hanya sesaat dan semakin bertambah akibat titik api (hospot) yang bertambah lagi.

"Statement politik keras sudah disampaikan Presiden, hukum mereka yang bakar hutan masukan daftar hitam mereka pebisnis yang terlibat, statement ini ternyata belum efektif dan belum hentikan pembakaran," ucap Koordinator Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, dalam diskusi politik satu tahun Jokowi-JK, Senin (26/12/2015) yang dilansir dari liputan 6.

Sebenarnya masalah kabut asap sudah menjadi masalah rutin tahunan sejak era 60-an yang diakibatkan oleh ilegal loging. Umumnya hutan dibakar untuk dialih fungsikan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Selain itu juga ada kepentingan-kepentingan politik lain yang turut menungganginya.

Perkembangan terbaru, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencabut izin 3 perusahaan dan membekukan 7 perusahaan yang diduga terlibat pembakaran hutan. Ketiga perusahaan tersebut berasal dari Sumatera dan Kalimantan.

Tiga Perusahaan yang izinnya dicabut antara lain:

1. PT Hutani Sola Lestari (Riau)

2. PT Mega Alam Sentosa (Kalbar)

3. PT Dyera Hutan Lestari (Jambi)

Tujuh perusahaan yang sudah dibekukan izinnya yaitu:

1. Langgam Inti Hibrindo

2. Waringin Argo Jaya

3. PT TPR

4. Sebangun Bumi Andalas Wood Industries (PT SBA WI)

5. PT PBP

6. PT DML

7. PT RPP

Selain 10 perusahaan tersebut, Kementerian LHK masih mengawasi sekitar 41 perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini juga berada di Sumatera dan Kalimantan.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});