6 Cara Terbaik untuk Mengontrol Amarah
Foto: Unsplash/Mikail Duran

6 Cara Terbaik untuk Mengontrol Amarah

Kamis, 15 Okt 2020 | 15:40 | Nurul Faradila

Kenali tanda saat marah

Sulit untuk membuat pilihan cerdas saat berada dalam cengkraman emosi negatif. Untuk mengendalikan amarah, kenali tanda-tnada peringatan bahwa kamu mulai kesal. Saat kamu sudah mengenalinya, menjauhlah dari situasi tersebut atau coba untuk melakukan relaksasi.

Merendahkan ekspektasi

Bernad Golden, PhD, pendiri dari Anger Management Education dan penulis ‘Overcoming Destructive Anger: Strategies That Work’, menyebutkan kalau kemarahan biasanya timbul karena ekspetasi yang tidak realistis tentang orang lain, bahkan diri sendiri. Oleh karena itu, ia menyarankan untuk merendahkan ekspektasi dan jangan berharap berlebihan dengan orang lain.

Alihkan pikiran

Sangat mudah untuk memikirkan tindakan yang akan dilakukan setelah kita diprovokasi. Tapi melakukan tindakan yang salah, sama saja dengan memberikan bensin ke dalam api. Oleh karena itu, saat seseorang membuat kita marah, cobalah cara ini mengendalikan amarah. Anggap kita sedang melihat pemandangan dari kejauhan, alih-alih berpartisipasi dalam situasi yang membuat kita marah.

Tarik napas yang dalam

Meskipun tidak memiliki waktu untuk benar-benar melakukan meditasi, kita bisa merasakan kebahagiaan dengan latihan pernapasan. Menarik napas dalam-dalam, diketahui dapat mengurangi gairah psikologis. Secara khusus, tarikan napas yang dalam bisa membantu memperlambat detak jantung dan menjaga pikiran tetap fokus pada hal lain selain sumber stres.

Tidur

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2020 di jurnal Sleep, para peneliti menganalisis catatan harian 202 mahasiswa yang melacak tidur, pemicu stres harian, dan kemarahan mereka selama sebulan. Peserta melaporkan merasa lebih marah pada hari-hari saat mereka kurang tidur, daripada ketika mereka dapat berisitirahat dengan cukup.

Lakukan terapi

Terapi perilaku kognitif dapat membantu kita belajar mengenali pemicu kemarahan dan mengendalikan reaksi. “Restrukturisasi kognitif melibatkan pembelajaran untuk mengidentifikasi dan menantang distrosi dalam berpikir,” kata Golden.

Hal itu termasuk apa yang dikenal sebagai catastrophizing (secara otomatis mengasumsikan kita berada dalam situasi yang lebih mencekam daripada yang sebenarnya) dan personalisasi (percaya bahwa pernyataan atau perilaku orang lain diarahkan ke kita, padahal sebenarnya tidak).

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...