(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

7 Mitos Tentang Kesehatan Vagina

Sofia
Sofia

7 Mitos Tentang Kesehatan Vagina Sumber: Glitz Media

Winnetnews.com - Ada beberapa mitos yang beredar di antara wanita terkait kesehatan vagina. Organ intim wanita ini memanglah organ yang lebih sensitif dari organ lainnya. Jika wanita salah memahami respon vagina terhadap pengaruh luar, bisa-bisa membawa vagina ke kondisi yang tidak sehat. Tentu ini akan membuatmu kurang nyaman ladies!

Berikut ini kami kumpulkan beberapa miskonsepsi terkait kebersihan organ genital wanita, dikutip dari berbagai sumber.

  1. Daerah vulva tidak perlu dibersihkan




    Ini salah kaprah paling banyak yang dilakukan wanita. Memang, studi mengatakan bahwa vagina mampu membersihkan dirinya sendiri. Namun vulva berbeda dengan vagina. Kenalilah anatomi tubuhmu sendiri: mana vulva dan mana vagina. Kulit daerah vulva tidak membersihkan dirinya sendiri seperti vagina. Keringat, kuman, dan minyak bisa bertumpuk di situ sama seperti kulit pada bagian tubuh lainnya.

    Artinya, kulit pada vulva juga perlu dibersihkan layaknya kulit tubuh lainnya.
      
  2. Semakin keras digosok saat pembilasan vagina semakin bersih




    Kadang saat vagina gatal, kamu cenderung menggosoknya dengan keras. Kulit sekitar vagina adalah daerah tubuh paling sensitif. Gunakan sabun padat dan tangan atau kain lap yang bersih saat mencucinya. Kalau vagina gatal, cobalah mandi berendam air hangat dengan larutan epsom salt (garam inggris). Ini akan mengurangi iritasi kulit pada vulva.

  3. Bebas gunakan sabun apa saja untuk bersihkan vagina




    Mengutip laman Everyday Health, pH vagina berkisar antara 3.8 – 4.5. Sabun biasa untuk tubuh normal memiliki pH yang jauh lebih tinggi dari itu. Nah kalau kamu mencuci vagina dengan sabun biasa, itu akan merusak pH vagina yang seharusnya dan menyebabkan infeksi bakteri (bakteri baik dalam vagina ikut mati sehingga vagina tidak mampu membersihkan dirinya sendiri).

    Sebaiknya gunakan sabun khusus area intim yang tidak beraroma dan mengandung pH seimbang.

  4. Penyebab utama infeksi jamur dan bakteri pada vagina adalah karena tidak dibilas cukup bersih




    Masalahnya bukan ada di seberapa baik kamu membilasnya tapi pada ‘apa’ yang kamu gunakan untuk mencucinya. Banyak faktor yang menyebabkan keputihan tidak normal pada wanita. Bisa karena hormon, antibiotik tertentu, atau kebanyakan terjadi setelah bersenggama. Sebagian besar karena berubahnya pH pada vagina. Oleh sebab itu, selektiflah dalam memilih sabun untuk area intim.

  5. Tidak apa-apa mencuci daerah vagina dengan sabun beraroma tertentu




    Sabun pembersih khusus vagina yang banyak dijual di pasaran sebenarnya kurang bagus. Sebab memiliki aroma wewangian yang kuat. Bebarapa wanita memang tidak mengalami masalah memakai sabun beraroma seperti ini. Namun studi mengatakan justru inilah penyebab utama vagina mengalami iritasi.

  6. Keluar cairan dari vagina tanda infeksi jamur




    Tidak selalu seperti itu. Ada banyak faktor dan infeksi jamur hanya salah satunya. Cairan yang keluar biasanya disebut keputihan, dan itu normal. Jika keputihan tidak normal segera periksakan ke dokter. Tanda keputihan tidak normal adalah, berwarna kuning dan berbau amis yang busuk.

  7. Vagina seharusnya tidak menguarkan aroma vagina




    Iklan produk pembersih wanita seolah-olah membangun stigma bahwa vagina seharusnya wangi atau beraroma tertentu. Seperti bunga misalnya. Padahal justru lebih sehat jika vagina beraroma selayaknya aroma vagina. Wewangian pada sabun pembersih wanita bisa menyebabkan iritasi dan efek sampik yang lebih buruk.

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});