Active Listening : Bagaimana Mendengarkan Dapat Memperkaya Diri
Artwork from Youtube/GCFLearnFree.org

Active Listening : Bagaimana Mendengarkan Dapat Memperkaya Diri

Senin, 9 Des 2019 | 10:00 | Lidia Julean

Winnetnews.com - Pada dasarnya, semua manusia ingin didengarkan, dipahami, dan dimengerti. Bahkan anak kecil pun sangat senang ketika perkataannya disimak oleh orangtuanya. Didengarkan oleh orang lain merupakan kebutuhan dasar manusia. Jika tidak terpenuhi, kita akan merasa sedih, kecewa, tidak dihargai, dan terkucilkan. 

Namun secara tidak sadar, seringkali kita berlaku egois, ingin didengarkan tapi tidak mau mendengarkan ketika orang lain bercerita.

Mendengarkan orang lain.

Sebelum menuntut untuk didengarkan, maka sebaiknya kamu mulai belajar mendengarkan. Mendengarkan aktif atau Active Listening adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan perilaku mendengarkan secara aktif, yaitu sepenuhnya berkonsentrasi pada apa yang dikatakan oleh lawan bicara, bukan hanya sekedar mendengarkan kata kata lawan bicara. 

Tidak hanya aktif meresponi seperti mengangguk, namun juga aktif bertanya dan menggali kebutuhan lawan bicara. Mendengarkan aktif seharusnya bukan hanya diterapkan dalam hal-hal yang serius saja, namun juga dalam keseharian, saat orang lain bercerita soal hobinya, keadaannya, bahkan saat lagi curhat.

Menurut Sari Dewi Setyori, seorang psikolog yang saat ini bekerja sebagai Assistant Manager pada Business Department Pt. Pasona HR Indonesia, active listening merupakan skill yang penting untuk dikuasai, namun tetap harus disesuaikan kadarnya, karena terlalu banyak mendengarkan aktif juga tidak baik.

Lalu, apa manfaaat mendengarkan orang lain?

Menurut Sari, dengan mendengarkan orang lain secara aktif, kita belajar untuk jadi lebih sensitif terhadap kepentingan atau kebutuhan orang lain. Sari menjelaskan, “Maksudnya, orangnya gak harus kasih tau kebutuhannya apa tapi kita tahu dia butuh nya apa. Misalnya, temen kita, mungkin dia gak directly curhat namun kamu bisa lihat perubahan dia, cara ngomong dia, sehari-harinya dia. Jadi ketika ada masalah kita bisa peka dan menggali apa yang dirasakan dan dibutuhkan teman kita.”

Lalu, ketika kita akan menghadapi masalah yang sama di kemudian hari, kita bisa tahu harus bagaimana. 

“Nanti di kemudian hari, jika kamu menghadapi masalah yang sama dengan apa yang teman kamu alami, kamu akan tahu bagaimana cara menghadapinya, apa yang harus dilakukan, intinya kamu akan jadi lebih siap waktu menghadapi masalah,” lanjutnya.

Dengan mendengarkan, kita bisa memperkaya diri kita sebagai manusia.

Tapi mendengarkan itu membosankan....

Namun tak bisa dimungkiri, sebagai manusia seringkali kita merasa kesal ataupun bosan saat mendengarkan orang lain berbicara. Lalu, apa yang harus dilakukan supaya bisa jadi pendengar yang aktif dan bijak dalam bertindak ? Menurut Sari, ada 3 cara simple yang bisa kita aplikasikan supaya kita dapat fokus mendengarkan orang lain.

Pertama, persiapkan dirimu. Saat mendengarkan orang lain, kamu harus dalam kondisi yang oke, baik dari segi mental maupun emosional. Maksudnya, siapkan diri secara mental, secara emosional, secara kesiapan untuk mendengar, karena mendengarkan itu butuh banyak kesabaran. 

“Mendengarkan itu butuh energi dan effort yang besar, karena itu kita harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum mendengarkan orang lain,” kata Sari.

Yang kedua, tanyakan tujuan pembicaraan. Kadang saat orang lain curhat, mungkin ada yang mengganggap itu menyebalkan karena orang tersebut terus menerus berbicara. Namun hal tersebut  dapat disiasati dengan bertanya apa tujuan dia curhat. 

Sari menjelaskan, “Dengan bertanya, kita juga mensiasati supaya pembicaraannya gak kemana mana. Selain itu, kita juga jadi lebih mengerti kebutuhan lawan bicara, karena takutnya waktu lawan bicara ingin didengarkan dan kita kasih pendapat dia malah kesal, atau mungkin merasa disalahkan. Tapi jika dia minta pendapat, berarti dia terbuka atas kritik dan saran.”

Ketiga, tetap utamakan dirimu sendiri. Menurut Sari, walaupun kamu lawan bicaramu lagi sedih, tapi kamu harus tetap mengutamakan dirimu. “Pertama harus nyaman lebih dulu, kalo kamu hanya nyaman satu atau dua jam ya bilang saja, tapi kalo kamu bisa hold it maka lanjutkan,” karena, kalau dipaksakan, maka kamu pada akhirnya akan merasa bosan dan kesal.

Belajar untuk mendengarkan memang sulit. Namun, saat kamu mampu mendengarkan orang lain secara terbuka tanpa menghakimi orang tersebut terlebih dahulu, percayalah kamu akan menemukan cara pandang baru yang tak akan kamu mengerti jika kamu tidak belajar mendengarkan.

***

 

Lidia Julean adalah mahasiswa tahun ketiga dari London School of Public Relations. Saat ini, ia sedang aktif dalam campaign mengenai mental health.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...