Skip to main content

Ada 982 Titik Panas di Pulau Sumatera

Ada 982  Titik Panas di Pulau Sumatera
Ada 982 Titik Panas di Pulau Sumatera

Jakarta, wingamers (14/9) - Kebakaran hutan di beberapa wilayah Indonesia tahun 2015 ini dikatakan sebagai fenomena kebakaran hutan terbesar yang pernah melanda tanah air selama 4 dekade terakhir. Kondisi langit pulau sumatera saat ini terpantau hampir seluruh wilayahnya diselimuti kabut asap. Sebelumnya fenomena kebakaran hutan yang terparah sebelum tahun ini terjadi pada tahun 1997. Ketika itu nyaris tak ada jarak pandang akibat pekatnya kabut asap. Namun saat itu dampak kebakaran hutan terparah hanya terjadi di wilayah provinsi Riau. Berbeda dengan tahun ini, kebakaran hutan terjadi hampir disetiap wilayah pulau Sumatera, dan dampaknya pun terjadi menyeluruh di wilayah pulau Sumatera.

Dari pantauan terakhir satelit Terra/Aqua pagi ini, Senin (14/9) terhitung ada 982 sebaran titik panas. Ini adalah angka tertinggi sejak dua bulan terakhir. Sepertinya sejumlah provinsi yang ada di Sumatera sudah kelabakan untuk menyelesaikan kebakaran lahan. Dari jumlah tersebut, Sumatera Selatan berada di urutan teratas dengan 618 titik panas. Kemudian menyusul Jambi 184 titik, Riau 55 titik, Lampung 48 titik, Babel 46 titik, Kepri 2 titik,dan Sumbar 18 titik.

Imbas dari kebakaran hutan menyebabkan jarak pandang sudah benar-benar di bawah batas normal. BMKG menyebutkan, di Pekanbaru hanya tebus 80 meter, Kota Rengat, Inhu 80 meter, Kota Dumai 50 meter dan Kabupaten Pelalawan juga 50 meter. Selain itu indeks standar pencemaran udara (ISPU) yang terpajang di kota Pekanbaru menunjukan level berbahaya. Partikel debu sudah melampau batas cukup 300 PM, yakni hari ini partikel debu mencapai 940 PM. Partikel debu kebakaran sudah tidak bisa ditolelir lagi untuk kesehatan warga.

Meskipun kebakaran lahan dan hutan terjadi setiap tahun terutama di musim kemarau, namun langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dalam menangani permasalahan ini sepertinya belum cukup efektif. Beberapa pengamat/pemerhati lingkungan dan masyarakat bahkan menilai bahwa pemerintah saat ini cenderung abai dalam penanganan bencana asap di wilayah Nusantara.Namun bencana kebakaran hutan dan kabut asap ini tidak seratus persen salah pemerintah. Masyarakat juga harus bekerjasama menjaga kelestarian lingkungan. Kesadaran akan lingkungan sudah seharusnya diterapkan sejak dini oleh masyarakat. Jangan sampai masyarakat mudah terpengaruh/terprovokasi pihak-pihak tertentu sehingga mereka melakukan pembakaran untuk membuka lahan serta tindakan lain yang dapat memicu kebakaran hutan di wilayah mereka.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top