(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ada Kemungkinan China Devaluasi Yuan Lagi

Rusmanto
Rusmanto

Ada Kemungkinan China Devaluasi Yuan Lagi

Rupiah sepertinya masih akan melemah, harga dolar AS sudah mencapai Rp 14.300. Faktor eksternal yang akan melemahkan rupiah ialah devaluasi lanjutan yuan dan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Namun, faktor yang lebih dominan ialah devaluasi yuan yang masih mungkin akan dilakukan lagi oleh China.

"Saya melihat masih ada peluang devaluasi lanjutan (yuan). Kalau The Fed sih sebenarnya kita tidak perlu khawatir lagi. Tren ekonomi di China kan masih terus memburuk, dia sudah beberapa kali menurunkan suku bunga dan ternyata nggak bisa mendorong ekonomi mereka. Mau nggak mau mereka mendorong lagi ekspornya dia dengan cara mendevaluasi yuan lagi," kata Direktur Eksekutif Mandiri Institute, Destry Damayanti, usai Financial Deeping Seminar.

Dia menjelaskan, devaluasi yuan bakal berlanjut akibat ekonomi China yang semakin melambat. China tak punya pilihan lain lagi selain menurunkan nilai tukar yuan. Karena cara-cara lain yang telah dia ditempuh, seperti penurunan suku bunga, sudah tidak ampuh lagi untuk menggenjot ekonomi mereka.

"Sebelumnya ekonomi China tumbuh pesat sehingga nggak ada alasan (untuk devaluasi). Di 2012 dia mulai melambat, akhirnya dia menggenjot ekspor dengan mendevaluasi mata uangnya," tuturnya.

Devaluasi lanjutan yuan akan sangat memukul perekonomian Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya, bahkan dampaknya bisa lebih besar ketimbang kenaikan suku bunga The Fed.

"Ini lebih berdampak bagi Indonesia dan ASEAN, China itu jangkar ekonomi di Asia, kita face to face dengan mereka. Kalau ada pergerakan di sana, mau nggak mau kita kena," papar Destry.

Langkah devaluasi mata uang China ini pun akan diikuti oleh Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Namun, Indonesia tidak dapat mengikuti langkah semacam itu karena kontribusi ekspor Indonesia terhadap PDB tidak terlalu dominan.

Devaluasi yuan akan membuat dolar AS makin perkasa, perekonomian Indonesia pun bakal terpukul karena ketergantungan pada impor bahan baku masih amat tinggi.

"Kalau Indonesia kan ekonominya lebih berorientasi ke domestik, dan kita impor bahan baku tinggi sekali. Kalau rupiah melemah, itu akan lebih memukul ekonomi domestik kita, 76% impor kita adalah bahan baku untuk produksi dan konsumsi domestik," tukasnya.

Di samping devaluasi lanjutan yuan, Destry melanjutkan, Indonesia juga perlu mewaspadai pelemahan harga komoditas. Anjloknya harga minyak akan diikuti oleh komoditas-komoditas lainnya.

"Korea Selatan ternyata punya cadangan minyak baru. Ini akan mempengaruhi kita karena 70% lebih ekspor kita dari komoditas. Tapi faktor dari China saja sudah menampar kita," ucapnya.

Untuk menahan pelemahan rupiah, ia mengusulkan pemerintah fokus mendorong industri-industri yang komponen lokalnya tinggi. Misalnya industri pengolahan berbasis sumber daya alam, garmen, industri kayu, industri yang berhubungan dengan CPO, dan sebagainya.

"Fokus bukan hanya berikan tax insentive, tapi juga berikan permodalan, teknologi, permudah izin," cetus Destry.

Dengan begitu, impor bahan baku bisa ditekan dan nilai tukar rupiah dapat diperkuat. "Kalau high export, dia bagus buat currency kita. Ini industri-industri yang harus dapat fokus dari pemerintah.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});