Akankah BI Menurunkan Suka Bunga Kamis?

Akankah BI Menurunkan Suka Bunga Kamis?

Selasa, 12 Jan 2016 | 16:33 | Dani Gunawan
WinNetNews.com - Untuk pertama kalinya Menteri Koordinator Ekonomi Darmin Nasution akan menghadiri rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Rabu besok.

Apakah mantan Gubernur BI tersebut, yang selama ini secara tidak langsung mendesak BI untuk menurunkan suku bunga akan berhasil menyakinkan BI? Ini mungkin merupakan the one-million-dollar question yang jawabannya ditunggu tunggu oleh investor pasar modal Indonesia.

Memang kebanyakan para ekonom memperkirakan Bank Indonesia untuk pertama kali sejak Februari 2015 akan memangkas suku bunga acuan BI rate sebesar 25 basis poin kali ini mengingat inflasi tahun lalu turun ke 3,35% yang berada di dalam rentang target BI 3%-5%, defisit neraca berjalan yang sepertinya tetap terkendali di bawah 3% dari nilai produk domestik bruto, dan cadangan devisa yang meningkat ke $105.9 milyar di akhir Desember dari $100.2 milyar akhir November 2015.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun lalu diperkirakan cuma 4.7%, level terendah selama enam tahun, yang memerlukan penurunan suku bunga dan pelonggaran moneter untuk menggenjotnya menjadi di atas 5% lagi. Demikian juga dengan rupiah yang belakangan ini relatif stabil di tengah-tengah turbulensi pasar modal global akibat gejolak pasar modal China.

Bank Indonesia sendiri sejak November lalu sudah menyatakan mereka melihat ada ruang untuk menurunkan BI rate, tetapi mereka tetap memilih untuk menunggu karena melihat ada potensi gejolak seperti kenaikan suku bunga acuan the Federal Reserve dan arah pergerakan yuan.

Gubernur Agus Martowardojo Jumat lalu mengatakan masih ada potensi gejolak di pasar modal dunia yang bisa memicu keluarnya modal dari negara-negara berkembang seperti Indonesia yang akan membuat kurs rupiah bergejolak lagi. Agus juga mengatakan BI masih prihatin dengan inflasi bulanan di bulan Desember yang melebihi prediksi mereka, dan diharapkan tetap akan tinggi bulan Januari ini.

Perlu dicatat bahwa tugas utama Bank Indonesia adalah menjaga nilai rupiah yang dilihat dari dua dimensi yaitu tingkat inflasi domestik dan tingkat nilai tukar rupiah terhadap mata uang lain. Bank Indonesia selama ini sudah bersusah payah untuk memenuhi amanat tersebut meskipun harus berseberangan dengan pemerintah yang menginginkan BI untuk menurunkan suku bunga untuk membantu pertumbuhan ekonomi.

Melihat hal ini, jika rupiah tetap stabil dalam dua hari ke depan, dan pasar modal global relatif tenang, BI kemungkinan akan memanfaatkan kesempatan itu untuk memangkas BI Rate menjadi 7.25% ketika mereka akan mengakhiri Rapat Dewan Gubernur Bulanan pada hari Kamis.

Rupiah mungkin akan sedikit melemah jika BI menurunkan tingkat bunga, namun yang penting adalah BI harus memberi sinyal yang jelas bahwa penurunan suku bunga itu bukan awal dari pemangkasan bunga yang agresif dan BI akan tetap prudent dalam memutuskan tingkat bunga ke depan.

Pemerintah pasti akan gembira menyambut keputusan BI seperti itu. Namun pemerintah juga harus terus menyelesaikan pekerjaan rumahnya yaitu mendorong terus reformasi ekonomi dengan terus memperbaiki iklim investasi, mendorong pembangunan infrastruktur, dan memberantas korupsi. (IMS)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...