Skip to main content

Akibat Krisis Yunani, Dolar AS bisa mencapai Rp 13.800

 Akibat Krisis Yunani, Dolar AS bisa mencapai Rp 13.800
Akibat Krisis Yunani, Dolar AS bisa mencapai Rp 13.800

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepertinya masih akan tertekan hingga sepanjang tahun ini. Berbagai sentimen negatif dari pasar global ikut menekan laju rupiah.

Krisis Yunani membuat mata uang euro tertekan sehingga mendorong dolar AS semakin perkasa yang imbasnya bisa membuat rupiah semakin terpuruk.

Sementara cadangan devisa Indonesia masih minim hanya US$ 108 miliar, 13% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Cadangan devisa Malaysia tercatat US$ 111 miliar atau 33% dari PDB, dan Thailand US$ 148 miliar atau 40% dari PDB.

Kondisi rendahnya rasio cadangan devisa RI ini tidak bisa berkontribusi banyak untuk menangkal kuatnya dolar AS. Bank Indoensia (BI) tidak bisa melakukan intervensi lebih dalam ke pasar keuangan. Akibatnya, rupiah terus melemah. Jika tidak diantisipasi lebih agresif, tidak menutup kemungkinan posisi dolar AS akan berada di level Rp 13.800 di akhir tahun ini.

Demikian disampaikan Ekonom Universitas Indonesia (UI) yang juga Analis Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidy saat acara edukasi bersama wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Dia menyebutkan, idealnya cadangan devisa itu mencapai 30% dari PDB. Paling tidak, bisa untuk memenuhi kebutuhan impor setahun.

Budi mengungkapkan, sulit rasanya untuk bisa kembali membuat rupiah berada di level aman di bawah Rp 13.000 per dolar AS. Kondisi global cukup berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

Untuk membantu rupiah tidak terjerembab begitu dalam, Budi menyebutkan, berbagai hal perlu didorong salah satunya diperkuat dengan penerbitan global bond agar pasokan valas lebih banyak, namun risikonya rasio utang lebih tinggi.(jk)

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top