Aksi "Black Lives Matter" Ricuh, Seluruh Wartawan Gedung Putih Diusir Paspampres
Pengusiran terhadap wartawan yang sedang meliput saat aksi demonstrasi. (Foto: The New York Times)

Aksi "Black Lives Matter" Ricuh, Seluruh Wartawan Gedung Putih Diusir Paspampres

Selasa, 23 Jun 2020 | 21:30 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Pasukan keamanan pengawal Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dikabarkan mengusir seluruh wartawan setelah demonstrasi yang terjadi di depan Gedung Putih semakin rusuh pada Senin (22/6) malam.

Tim CNN melaporkan pengusiran itu dilakukan ketika para demonstran anti-rasisme yang tengah berunjuk rasa di Lafayette Park, depan Gedung Putih, berusaha menjatuhkan patung mantan Presiden Andrew Jackson.

Aparat kepolisian disebut tengah berusaha memukul mundur para pemrotes dari taman tersebut.

"Para pemrotes menaruh tali di sekeliling patung Andrew Jackson di taman itu, mereka mencoba menjatuhkan patung itu dan dengan sangat cepat Anda melihat polisi mendorong para pengunjuk rasa itu agar mundur dari taman tersebut," kata koresponden CNN di Gedung Putih, Kaitlan Collins.

Unjuk rasa itu dihadiri oleh ratusan orang. Para pedemo berupaya meruntuhkan patung Andrew Jackson sambil mencoret-coret dengan tulisan "pembunuh".

Jackson merupakan presiden AS 1829-1837. Ia memiliki 500 budak selama hidupnya dan menjadi tokoh utama yang menerapkan kebijakan relokasi paksa 60.000 penduduk asli AS atau dikenal sebagai Trail of Tears.

"Kami memiliki tali-tali, rantai, katrol, untuk menarik dan kami akan merobohkan patung itu," ucap seorang pemrotes kepada AFP.

"Polisi menyerang kami. Mereka menggiring hukum ke tangan mereka sendiri," ucap seorang pedemo lainnya, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (23/6).

Sebuah helikopter juga berputar-putar di atas ratusan orang pedemo di jalan Black Lives Matter. Para polisi menggunakan semprotan merica untuk membubarkan para demonstran.

Perobohan patung Jackson merupakan aksi terbaru para demonstran yang masih terus menuntut keadilan terhadap diskriminasi yang selama ini masih diterima warga kulit hitam AS dan warga minoritas lainnya.

Gelombang unjuk rasa anti-rasisme sudah bergulir di penjuru AS sejak akhir Mei lalu, tepatnya sehari setelah kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam asal Minneapolis yang meninggal dunia karena kehabisan napas setelah lehernya ditekan lutut seorang polisi kulit putih yang berupaya menahannya.

Kematian Floyd disebut menjadi puncak amarah warga AS terhadap diskriminasi dan rasisme terhadap warga kulit hitam dan minoritas lainnya, terutama oleh aparat penegak hukum Amerika.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...