Aktivis PBB Tuntut Aung San Suu Kyi Selesaikan Isu Rohingya
Aung San Suu Kyi (sumber: Al Jazeera)

Aktivis PBB Tuntut Aung San Suu Kyi Selesaikan Isu Rohingya

Rabu, 4 Sep 2019 | 17:32 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Yanghee Lee, Penyelidik Khusus Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengkritik sikap pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang dianggap membiarkan presekusi terhadap etnis Rohingya terus berlanjut.

Yanghee Lee menyoroti aksi pembersihan etnis Rohingya yang dilakukan oleh Mian Aung Hlaing di wilayah barat Rakhine sebagai aksi kriminal dan harus ditindak.

“Pemerintah Myanmar harusnya membekukan semua aset mereka, aset keluarga mereka, dan harus memberi larangan perjalanan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam kejahatan tersebut,” ujar Lee, seperti dilansri dari Al Jazeera pada Rabu (04/09).

Seperti yang diketahui oleh publik, pemerintah Myanmar tidak pernah mau mengakui Rohingya sebagai bagian dari etnis resmi di Myanmar. Pemerintah lebih suka menyebut mereka sebagai orang-orang ‘Bengali’, yang dapat diintepretasikan sebagai suku dari Bangladesh.

“Dia (Suu Kyi) harus mengambil langkah dan mulai buka suara tentang perlakuan terhadap etnis Rohingya yang sudah menderita bertahun-tahun,” kata Lee, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (04/09).

Lee merupakan seorang profesor asal Korea Selatan yang rutin melakukan kampanye HAM. Ia beberapa kali dilarang berkunjung ke Myanmar karena sering memberikan kritik terhadap rezim Suu Kyi.

Belakangan ini, Singapura memulangkan enam orang warga negara Myanmar yang dinilai memberikan sumbangsih terhadap maraknya tentara Arakan. Tentara ini merupakan grup pemberontak yang berjuang untuk mengklaim otonomi lebih luas atas etnis Rakhine yang didominasi oleh orang-orang Buddha.

Lebih dari 35.000 etnis Rohingya mengungsi ke tempat yang lebih aman karena konflik dan perang di daerah Rakhine yang terus terjadi.

Terdapat sekitar 730.000 masyarakat Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh usai kisruh yang dimulai tahun 2017 silam. Tim investigator PBB menyebut peristiwa ini sebagai ‘genosida yang direncanakan’ dan telah melakukan berbagai tindak kejahatan seperti pembunuhan massal, pemerkosaan dan pembakaran pemukiman.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...