Al-Jazeera Amerika Serikat Tutup

Al-Jazeera Amerika Serikat Tutup

Kamis, 14 Jan 2016 | 20:19 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Stasiun televisi berita Al Jazeera America akan ditutup pada 30 April nanti setelah mengudara dua tahun lebih sedikit. Kabar itu diumumkan dalam sebuah pertemuan mendadak yang diikuti para staf Rabu (13/1) sore waktu setempat atau Kamis dini hari WIB. Suasana di ruang redaksi terlihat murung sebelum pertemuan itu, dan para pegawai sudah menduga hal terburuk akan terjadi.

"Para eksekutif di sini menangis," kata salah seorang pegawai senior, seperti dikutip CNN. Presiden Al Jazeera America Kate O'Brian, yang berlinang air mata, akhirnya menyampaikan berita buruk itu kepada para staf.

Dalam memonya, CEO Al Jazeera America Al Anstey memuji kerja keras karyawan dalam membangun stasiun TV berita tersebut. "Saya benar-benar menghargai komitmen tak tertandingi dan kerja luar biasa tim kami, yang telah menciptakan jurnalisme yang hebat," tulis Anstey.

"Kami telah makin membedakan diri dengan yang lain, dan prestasi selama dua setengah tahun ini harus menjadi sumber kebanggaan bagi siapa saja." Memo dia mengindikasikan bahwa Al Jazeera Media Network berencana "memperluas layanan digital internasional yang sudah ada" di Amerika Serikat.

 

Al Jazeera America telah mampu menayangkan liputan dan analisis mendalam, namun rating televisi tersebut tidak terlalu tinggi sejak diluncurkan. Dalam jam prime time, saluran televisi ini hanya ditonton rata-rata 20.000 sampai 40.000 orang di hari biasa, tulis CNN.

Nasib saluran ini tampaknya ditentukan oleh anjloknya harga minyak dunia, yang berada di bawah US$ 30 per barel untuk pertama kalinya dalam 12 tahun pada Selasa lalu.

Ini merupakan faktor penting karena Al Jazeera America dimiliki oleh Al Jazeera Media Group, yang dimiliki oleh pemerintah Qatar.

Al Jazeera America diluncurkan pada 2013 setelah perusahaan induknya di Doha membeli stasiun Current TV dari Al Gore dan para pemilik lain senilai US$ 500 juta. Al Jazeera dinilai sebagai saluran alternatif dari TV kabel lainnya yang menjual sensasi.

"Para pemirsa akan mendapatkan saluran berita yang berbeda dari yang lainnya, karena program Al Jazeera America akan menayangkan berita yang berdasarkan fakta, tidak bias, dan mendalam," kata mantan CEO Ehab Al Shihabi saat peluncuran dua tahun lalu.

Namun dari awalnya, Al Jazeera America dihadapkan pada rating rendah dan konflik internal. Dua mantan pegawainya mengajukan gugatan tahun lalu, dengan tuduhan bahwa perusahaan bersikap anti-Yahudi dan diskriminasi gender.

Al Shihabi, yang menjadi tertuduh dalam gugatan itu, dicopot pada bulan Mei dan digantikan oleh Anstey, yang sebelumnya menjadi redaktur pelaksana Al Jazeera English

(seperti dilansir Berita Satu)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...