Skip to main content

Alternatif Pembiayaan Jangka Panjang

Alternatif Pembiayaan Jangka Panjang
Alternatif Pembiayaan Jangka Panjang

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengemukakan berkembangnya industri pasar modal Indonesia dapat menjadi salah satu alternatif penting bagi sumber pembiayaan jangka panjang bagi berbagai perusahaan.

"Selama lima tahun terakhir, jumlah dana yang berhasil dihimpun berbagai perusahaan dari pasar modal, baik melalui penerbitan saham maupun obligasi korporasi, nilainya mencapai Rp595 triliun. Sementara nilai kapitalisasinya hingga awal bulan ini hampir mencapai Rp5.000 triliun," jelas Muliaman D Hadad dalam "Peringatan 38 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia" di Jakarta.

Pencapaian itu, lanjut dia, meningkat lebih dari 60 persen dan sekaligus menunjukan peningkatan peran pasar modal dalam memenuhi kebutuhan pendanaan bagi banyak perusahaan di Indonesia. Melihat kinerja pasar modal itu, ia akan terus mendorong berbagai perusahaan baik BUMN dan non BUMN untuk memanfaatkan pasar modal Indonesia sebagai tempat untuk memobilisasi dana investasi baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia menambahkan bahwa pihaknya juga terus mendorong peningkatan jumlah investor domestik, baik ritel dan institusi, khususnya industri keuangan non bank atau asuransi dan dana pensiun. "Selain mendorong meningkatkan portofolio investasi, kami juga mendorong perusahaan untuk 'go public' termasuk membuka kesempatan kepada perusahaan-perusahaan kecil dan menengah untuk menggalang dana jangka panjang di pasar modal," kata da.

Dalam waktu dekat, Muliaman D Hadad mengatakan bahwa pedoman dan petunjuk teknis bagi perusahaan kecil dan menegah (UKM) yang akan "go public" sudah bisa disiapkan.

Untuk mempercepat pengembangan pasar modal Indonesia maka dalam "Peringatan 38 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia" OJK bersama dengan Lembaga terkait menetapkan program Dana Perlindungan Pemodal termasuk dari tindakan penggelapan (fraud), dari semula sebesar Rp25 juta menjadi Rp100 juta per pemodal, dan peluncuran saluran TV khusus Pasar Modal oleh Bursa Efek Indonesia, yaitu Indonesia Business Capital Market TV (IBCM TV) yang diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo. (jk)

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top