Anak Buah Intimidasi Wartawan, Anies Kebakaran Jenggot
sumber foto : istimewa

Anak Buah Intimidasi Wartawan, Anies Kebakaran Jenggot

Jumat, 23 Mar 2018 | 17:45 | Oky

Winnetnews.com - Bocornya informasi penutupan Hotel Alexis yang berada di kawasan Jakarta Utara membuat geram Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta. Anies pun menduga informasi yang tersebar di kalangan wartawan itu dibocorkan oleh 'orang dalam' di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Informasi yang berasal dari surat edaran itu beredar di kalangan wartawan di hari yang sama dengan waktu eksekusi penutupan Alexis, yakni Kamis (22/3).

Melalui Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembanguan (TGUPP), Anies pun 'memburu' pembocor dimaksud. TGUPP yang menjadi 'kaki tangan' Anies langsung mencari bukti rekaman telepon antara media dengan Wakil Kepala Satpol PP Hidayatullah dan Kepala Bidang Industri Pariwisata, Disparbud DKI Toni Bako. Keduanya merupakan pihak Pemprov DKI yang berhasil dikonfirmasi awak media perihal informasi penutupan Alexis yang beredar. 

Adalah Naufal Firman Yusak, anggota TGUPP, ajudan, sekaligus mantan Tim Sukses Anies-Sandi kala mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wakil pada kontestasi Pilkada DKI 2017 lalu yang bergerak melakukan 'perburuan'. Dia berulang kali menghubungi awak media untuk mendapatkan rekaman percakapan telepon Hidayatullah dan Toni ketika dihubungi wartawan. 

Naufal diketahui meminta awak media agar menyerahkan rekaman suara telepon. Hal ini terkonfirmasi dari salah seorang wartawati. Dia sempat diminta menyerahkan rekaman telepon dengan Hidayatullah dan Toni oleh Naufal.

Namun wartawati itu menolak permintaan juru bicara Anies-Sandi saat Pilkada DKI 2017 tersebut, dengan alasan untuk melindungi narasumber. Adapun upaya jurnalis melindungi narasumber diatur dalam Pasal 1, Pasal 4, dan Pasal 7 Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

"Saya bilang saya tidak mau diintimidasi, saya katakan ke dia, dengan dia meminta dan menghubungi berkali-kali itu adalah bentuk intimidasi. Kalau saya memberikan rekaman telepon ke dia (Naufal) itu menyalahi aturan jurnalistik," kata wartawan tersebut di kawasan Balai Kota DKI, Jakarta, Kamis (22/3). 

Tak hanya itu, dia juga mengaku sempat ditanya oleh Naufal soal asal-usul surat edaran yang beredar tersebut.

"Di telepon tadi saya katakan saya dan teman-teman tidak mendapat surat edaran tersebut dari Wakasatpol PP Hidayatullah atau Kepala Bidang Pariwisata Disparbud Toni Bako. Surat itu tersebar dan kami cuma mencoba mengonfirmasi ke kedua pejabat itu," katanya. 
 

Naufal sendiri ketika ditanya apa benar sedang mencari siapa yang membocorkan, justru menolak menjawab. Berulang kali dia selalu menegaskan hal yang sama. 

"Off the record," ujar dia dalam setiap pesan singkat dan telepon yang tersambung. 

Tim Gubernur Anies Baswedan langsung memburu pihak yang membocorkan informasi soal penutupan Alexis, bahkan sampai mencari rekaman telepon awak media.

Surat Edaran yang Tersebar

Kamis (22/3) sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB beredar surat edaran berkop Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta yang ditujukan kepada aparat kepolisian. 

Surat itu, berisi informasi penutupan kegiatan usaha Alexis di Jalan RE Martadinata Nomor 1, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Tertulis, penutupan itu akan dilakukan pada Kamis (22/3). 

Sulitnya meminta konfirmasi kepada pimpinan tertinggi di Pemprov DKI, dalam hal ini Gubernur Anies Baswedan membuat awak media kemudian berinisiatif memgonfirmasi kepada Kepala Satpol PP Yani Wahyu. 

Namun, berulang kali dihubungi, berulang kali juga tak digubris Yani. Akhirnya untuk mendapat kepastian Wakil Kepala Satpol PP Hidayatullah pun menjadi pilihan. 

Hidayatullah yang kemudian berhasil dihubungi membenarkan rencana seperti di dalam surat itu. Dia pun mengatakan anggotanya telah bersiap-siap sejak pukul 11.00 WIB.

"(Anggota Satpol PP) lagi stand by sejak jam 11.00 WIB," kata dia ketika dihubungi.

Adapun Kepala Bidang Industri Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Toni Bako mengakui pihaknyalah yang mengusulkan untuk menutup tempat usaha Alexis.

Alasannya, karena ada laporan media massa beberapa waktu lalu mengenai dugaan praktik prostitusi di tempat karaoke Alexis atau 4Play yang bisa ditindaklanjuti jika merujuk pada Pergub Nomor 18 Tahun 2018. 

"Tutup dong, habis," kata dia.

Tak hanya itu, awak media juga kemudian mencoba mengonfirmasi kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno. Sandiaga menyebut Anies yang akan menyampaikan perihal penutupan Alexis ini. 

"Nanti, nanti itu Pak Anies, dia yang akan sampaikan, dia juga sudah persiapkan beberapa hal," kata Sandi. 

Sayangnya, Anies justru selalu tutup mulut dan seolah 'alergi' terhadap wartawan. 

Baru ketika bisa dimintai konfirmasi, Anies tak menjawab seperti yang ditanyakan. Alih-alih memberi jawaban, Anies justru menuding bocornya surat perintah penutupan kegiatan usaha Alexis adalah bukti ketidakdisiplinan pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Ini adalah contoh ketidakdisiplinan organisasi. Jadi sesuatu yang seharusnya dipersiapkan sampai tuntas ternyata difoto, dibocorkan, dan beredar," kata bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. 

Dia pun memastikan akan menertibkan pejabatnya yang dia 'klaim' menyalahi aturan hingga harus dicari-cari oleh tim TGUPP. 

"Akan ditertibkan," kata Anies tanpa menjelaskan sama sekali soal penutupan Alexis. 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...