(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Anak Bukan Hanya Saksi, Melainkan Korban KDRT Yang Sebenarnya

Oky
Oky

Anak Bukan Hanya Saksi, Melainkan Korban KDRT Yang Sebenarnya Sumber Foto : Istimewa

Winnetnews.com - Kekerasan dalam rumah tangga atau yang biasa disebut KDRT menjadi hal yang lumrah terjadi saat ini khususnya di Indonesia, bahkan KDRT bisa terjadi di setiap harinya. Banyak faktor yang mendukung terjadinya KDRT, misalkan faktor ekonomi, kurangnya komunikasi, minimnya pendidikan atau wawasan tentang KDRT maupun faktor lainnya.

Banyak yang membahas tentang KDRT yang terfokus hanya kepada si pasangan suami istri, tapi apakah kita sadar, bahwa korban yang sebenarnya adalah anak? Banyak orang tua yang belum menyadari akan pentingnya hal ini karena terlalu mengganggap remeh.

Permasalahan di rumah tangga merupakan hal yang wajar terjadi namun sikap yang agresif dalam menanggapi permasalahan itu lah yang menyebabkan kekerasan, karena tersulut emosi kemudian awalnya menghina pasangannya kemudian dilanjutkan dengan menampar atau bahkan memukul dan dilakukan di depan sang anak. Walau hanya menjadi saksi atau penonton, otaknya mulai merekam segala tindakan kekerasan yang dilakukan dan tertanam pada dirinya hingga besar. Bersyukur jika sang anak adalah sosok yang dapat membantu dirinya sendiri untuk bangkit dari masa lalu nya, tapi sangat disayangkan jika sang anak tidak bisa keluar dari zona ketakutan nya.

Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2018, terdapat angka kekerasan terhadap anak perempuan yang meningkat dan cukup besar yaitu sebanyak 2.227 kasus, kekerasan terhadap istri tetap pada posisi pertama yaitu  5.167 kasus. Kekerasan yang dilakukan antara lain kekerasan fisik 41% (3.982 kasus) , kekerasan seksual 31% (2.979 kasus) ,  kekerasan psikis 15% (1.404 kasus) dan kekerasan ekonomi 13% (1.244 kasus).

Faktor terjadinya KDRT antara lain :

  1. Permasalahan Ekonomi

    Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi pasalnya harus memiliki pendapatan tetap ditambah lagi jika sudah memiliki anak. Para orang tua memiliki tanggung jawab untuk menyekolahkan anak mereka. Namun tanggung jawab tersebut tidak dapat dilakukan jika orang tua mereka tidak memiliki pekerjaan. Tidak dipungkiri, di era sekarang ini, untuk mendapatkan lapangan pekerjaan merupakan hal yang sulit ditambah dengan kurangnya pendidikan yang dimiliki sebaagai syarat dalam mendapatkan sebuah pekerjaan. Tuntutan ekonomi yang tidak bisa dihindari lagi membuat segelintir orang menjadi emosional, gelap mata, dan menghalalkan segala cara. Hal ini lah yang menyebabkan terjadi nya KDRT, kepala keluarga tidak dapat menafkahi kehidupan sehari-hari istri dan anaknya, sehingga mereka justru menjadi korban untuk meluapkan kemarahannya.
  2. Komunikasi yang tidak baik

    Komunikasi adalah alat penting dalam berkehidupan terutama pada keluarga. Banyak yang menyepelekan betapa pentingnya komunikasi yaitu dengan mempercayai satu sama lain dan keterbukaan. Komunikasi yang kurang baik menimbulkan kesalah pahaman dan rasa tidak mempercayai satu sama lain. Masalah ini jika dibiarkan akan berlarut-larut dan mampu menyulut emosi sebagai awal terjadinya KDRT.
  3. Tidak ada pengaduan dan perlawanan

    Banyak orang yang menjadi korban KDRT memilih diam tanpa perlawanan dan menanggung bebannya sendiri. Padahal dengan membiarkan KDRT tetap terjadi akan menyebabkan pelaku KDRT tidak terkontrol dan semakin menjadi-jadi bahkan dapat menyebabkan hal yang tidak diinginkan.
  4. Kurangnya pengetahuan/wawasan

    Dengan memperbanyak wawasan dan pengetahuan terutama untuk perempuan sehingga dapat berdampak pada pola piker dan pola mendidik anak. Dengan pengetahuan yang cukup, seorang korban akan merasa dirinya lebih berharga dan berhak mendaptkan perlakuan yang selayaknya. Namun masih minim yang sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dan wawasan untuk menjaga dirinya sendiri dari perilaku yang tidak diinginkan.

KDRT merupakan momok yang menakutkan untuk terjadi di keluarga karena bukan saja hanya akan merusak hubungan harmonis keluarga namun juga dapat berdampak buruk terhadap fisik,psikis maupun mental dari setiap anggota keluarga. Umumnya, KDRT terjadi antara suami dan istri dimana istri menjadi korban. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa yang terjadi sebaliknya dimana istri pun dapat menjadi pelaku utama dari tindakan KDRT.  Pada kasus terjadinya KDRT, umumnya anak akan sangat merasakan dampak langsung dimana akan cenderung menyerap kejadian tersebut dan tidak menutup kemungkinan untuk meniru apa yang terjadi di kemudian hari. Banyak anak yang menjadi korban dari permasalahan orang tua nya yang terus berlarut kemudian mengalihkannya ke arah yang tidak baik seperti minuman keras, pergaulan bebas atau bahkan narkoba.

Dampak yang dirasakan oleh sang anak antara lain :

  1. Trauma

    Anak yang sering menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar umumnya akan memiliki kemungkinan trauma, seperti trauma mendengar suara keras karena ayahnya selalu berteriak atau mengeluarkan suara yang keras atau trauma melihat sebuah benda karena kerap dipukul menggunakan alat tersebut. Jika tidak segera ditangani bukan hal yang mustahil trauma akan tetap tumbuh hingga dewasa bahkan saat berkeluarga.
  2. Relasi yang tidak baik dengan lingkungan sekitar

    Anak yang hidup dalam keadaan keluarga yang tidak harmonis atau melakukan KDRT tidak menutup kemungkinan akan melakukan kekerasan seperti pelecehan secara fisik maupun psikis terhadap teman-teman sekitarnya.
  3. Mencari perhatian

    Anak yang terus menerus menyaksikan KDRT dalam keluarganya memiliki kecenderungan berbuat nakal. Kenakalan yang dilakukan bukan berarti tidak dapat diperbaiki, namun dilakukan agar ia mendaptkan perhatian dari orang-orang sekitarnya, yang tidak lupa karena anak tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya
  4. Prestasi menurun

    Sadar atau tidak, pertengkaran yang terjadi di rumah berdampak pada prestasi anak, karena mengganggu konsentrasi belajar anak.
  5. Terjurumus hal negatif

    Banyak anak korban KDRT menyalurkan ketidak puasannya, stress nya ke dalam hal-hal berbahaya misalnya narkoba, merokok,minum alcohol bahkan seks bebas.
  6. Mencontoh yang dilakukan orang tua

    Ada kemungkinan anak yang sering menyaksikan atau melihat kedua orang tuanya bertengkar akan mencontoh perilaku kekerasan tersebut. Baginya, karena setiap hari melihat kejadian tersebut, kekerasan merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Misalnya ketika ayahnya melakukan tindakan kekerasan baik itu verbal maupun non verbal , maka anak akan menyerap,mengingat dan tidak menutup kemungkinan akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.Salah satu pencetus seseorang menjadi tindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga adalah menyaksikan kekerasan orang tua saat masih kanak-kanak, bersikap agresif terhadap istri dan anak.

SS, 19, merupakan mahasiswa kampus ternama di bilangan Jakarta Timur, ia merupakan salah satu korban sekaligus saksi KDRT dalam keluarganya. Ia menuturkan KDRT sudah terjadi sejak ia berumur 3 tahun, umur yang masih muda dimana masih lugu seperti anak seusianya. Karena hanya masalah spele ingin membuang angin, karena sudah tidak tahan akhirnya ia terpaksa melakukannya di dekat ayahnya, tanpa berkata apapun sang ayah langsung menendang bokongnya hingga tersungkur dan memaki dengan perkataan yang tidak sepantasnya yang diberikan kepada anak umur 3 tahun. “ Dari dulu bokap emang keras, mungkin karena dia juga TNI ditambah dia sering bilang kalau dia ngehajar gue dan adek-adek gue itu belum seberapa sama dulu pas dia masih kecil,jadi menurut aku dia juga punya trauma yang sama yang akhirnya numpahinnya ke anak nya sendiri. Dia nggak memandang mau cewe atau cowo, dimata dia sama aja, kalo emang harus dihajar ya dihajar “  ujar nya. KDRT dimulai dari hal-hal kecil kemudian di respon secara berlebihan oleh si pelaku kekerasan. “ Kalo orang tua lagi berantem, bokap pasti ngusir nyokap,gue sama adek-adek dari rumah. Padahal gue nggak tau sama sekali permasalahannya apa, tapi ya semuanya kena”. Orang tua pun kadang kerap mengikut sertakan anaknya dalam permasalahan mereka, dimana anak tidak tahu menahu apa yang dipermasalahkan. “ Setiap mereka lagi bertengkar dan berlaku kasar ke gue dan nyokap serta adek-adek gue, gue ngerasa kok nggak adil, disaat temen-temen gue dekat sama bokap nya, kok gue malah kebalikannya.” SS mengalami down moment nya saat duduk di bangku SMP, ia sering mendapat perlakuan kasar dari ayahnya seperti kepala dibenturkan ke tembok, memukul, menghardik dengan kata-kata yang tidak pantas. Ditambah saat kedua orang tuanya yang bertengkar, SS dan adik-adiknya juga turut merasakan dampak dari pertengkaran tersebut, SS menjelaskan bahwa setiap kedua orang tuanya bertengkar hebat, ia dan adik-adik serta ibu nya sering di usir dari rumahnya, “ Yang namanya tidur di pom bensin atau di mobil udah biasa, bahkan pernah 3 bulan kita semua nggak pulang karena saking takutnya ketemu  bokap”  tuturnya saat diwawancara. Akibat sering mendapatkan perlakuan kasar dan menjadi saksi saat kedua orang tuanya bertengkar, SS sempat mengalami trauma hebat yaitu berpikir untuk menyukai sesama perempuan, “ Gue mikir untuk suka sama perempuan karena saking takutnya kalo sama cowok bakal dapat kaya bokap, takut diperlakuin kasar ” sambungnya “ Karena sekasar-kasarnya cewek tetap aja dia lemah, beda hal kalau laki-laki ” . Niatan yang berawal dari trauma yang di akibatkan dari ayahnya sendiri. Bukan hanya trauma fisik yang di dapatkan oleh SS trauma psikis pun juga dialaminya, ia menjadi sesosok yang tertutup dan menjauhi kehidupan sosial nya, sering tidak masuk sekolah, bisa dibilang sangat introvert.

 SS menjelaskan bahwa mulai memasuki jenjang SMA kedua orang tua nya sudah mulai mengurangi pertengakarannya dari sebulan terjadi 5-8 kali , semenjak SMA berkurang 1-3 kali dalam sebulan. Disitulah SS mulai merasa membutuhkan sosok figur teman-teman yang selama ini ia jauhi karena saking takutnya untuk bersosialisasi. “ Gue sadar bahwa sosok teman itu sangat dibutuhkan saat kita lagi ngerasa down, disitu lah tempat kita untuk sharing permasalahkan kita, paling nggak kita merasa nggak sendiri untuk menghadapi masalah ”. Ia juga mengakui bahwa ia sempat lari ke minuman keras untuk mengalihkan tekanan-tekanan yang ia dapatkan di rumahnya.

Lainnya halnya dengan IA,19, mahasiswa di salah satu kampus swasta ternama di daerah Jakarta Pusat juga salah satu korban sekaligus saksi KDRT di dalam keluarganya. Ia adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara perempuan. Awal mulanya ia dekat dengan sang ayah dibandingkan kedua kakak nya. Dimatanya, sang ayah adalah sosok yang sempurna, sampai akhirnya ia menyaksikan kedua orang tua nya bertengkar hebat saat ia masih dalam usia 4 tahun “ Pas itu aku masih kecil banget belum masuk TK, hari itu mama dan papa berantem yang aku juga nggak tahu permasalahannya apa, tiba-tiba mereka berantem teriak-teriak “ lanjutnya “ Yang paling aku ingat dan nggak akan lupa, mama pas itu dicekik sama papa ya merajuk ke pembunuhan sih di mata aku, karena mama mukanya udah pucat sambil nangis-nangis, aku sama kedua kaka ku, ya namanya juga masih kecil, kita cuma narik-narik papa supaya ngelepasin mama. Itu sih yang mengubah pandangan aku dari sosok ayah yang sempurna menjadi seseorang yang aku menakutkan di mata aku”. Saat memasuki bangku SMP, IA mulai menemukan passion nya sendiri dalam hal non akademik, dan yang ternyata sang ayah tidak menyukainya, dari situ IA mulai mendapatkan kekerasan fisik maupun psikis. “ Aku inget banget pas awal-awal aku masuk SMP dan ikut ekstrakurikuler cheerleader , papa mulai nunjukin nggak sukanya ke aku, karena papa berharapnya aku masuk kaya badminton, taekwondo kaya pas SD, tapi kenyataannya aku malah bertolak belakang banget sama apa yang papa mau” tuturnya “ Pernah suatu saat aku berantem sama kakak ku, ya namanya juga anak SMP dan kakak ku itu masih SMA jadi  berantemnya nggak karuan. Terus papa tiba-tiba nyamperin aku dan langsung ngedorong tengkuk aku ke sofa dan bener-bener nekan kepala aku, itu sakit banget, tapi disitu aku kaget karena sebelumnya papa nggak pernah perlakukan aku kaya gitu ” ungkap IA saat diwawancarai. Semenjak kejadian itu, IA menjadi lebih sering mendapatkan perlakuan kasar dan cacian dari sang ayah.

“ Yang bikin aku semakin benci sama papa, karena dia suka kasar ke mama kalau lagi berantem, ntah itu mukul atau ngehardik mama. Perasaan aku hancur banget pas ngeliat mama kaya gitu. Karena aku nggak suka mama diperlakukan kaya gitu, aku selalu spontan untuk belain mama, alhasil aku ditampar atau dimaki sama papa.” Ia menerangkan bahwa ayahnya kerap berteriak keras atau membanting barang saat bertengkar dengan ibu nya. “ Kalau ngomongin trauma, aku paling nggak bisa dengar suara orang teriak atau berantem, aku pasti langsung keringat dingin dan gemetaran. ” Terkadang orang tua mengganggap dengan hal-hal kecil seperti membentak, membanting barang, atau berkata kasar adalah hal yang biasa atau spele, tapi justru hal-hal kecil seperti itu yang sangat berpengaruh pada psikis si anak “ Papa tipikal orang yang nggak mau disalahin, dan sekalinya dia nyalahin benar-benar nyalahin. Itu yang bikin aku menjadi orang yang suka menyalahkan diri sendiri walau itu hanya hal kecil” tuturnya “ disaat orang salah kemudian dia menyalahkan dirinya sendiri, aku bisa dibilang 100 kali lebih menyalahkan diriku sendiri dan biasanya aku mukulin diriku sendiri , it makes me feel more better after doing it haha. Bahkan kakak ku yang pertama dia nggak mau punya anak, karena katanya ngerepotin dan kakak ku yang kedua malah pengen punya anak tapi nggak mau punya suami haha sounds funny you know? Karena trauma dari ayah sendiri dampaknya sampai ke masa depan si anak.”

Tak hanya fisik, IA mengaku ayahnya suka menjelek-jelek kan ibu, kakaknya, bahkan dirinya sendiri. “Dari kecil aku udah nggak asing dengan kata-kata jablay,perek,goblok, tolol, dan kata-kata buruk lainnya. Karena aku ingat dulu papa pernah ngatain mama perek di depan aku. Balik lagi, namanya juga anak kecil, ya aku langsung ngadu ke mama” lanjutnya “ Aku nanya ke mama perek itu apa , mama kaget dong karena anak sekecil aku kok omongannya kaya gitu ”

Banyak kejadian-kejadian buruk di masa lalu yang SS dan IA alami, namun mereka tidak memilih terkubur terlalu lama dalam perasaan ketakutan, mereka memilih menerima masa lalu dan menjadi pembelajaran sekarang. “Alhamdullilah aku berusaha untuk ngga menyalahkan masa lalu , justru aku berusaha keluar dari ketakutan aku, dan berani bersuara saat aku disakitin lagi.” Lanjutnya “ Kalo kalian merasa disakiti jangan pernah kalian diam, this is your body, you have to protect yourself and don’t listen to every words that hurt your feeling, anggep aja kamu udah terbiasa dan jangan haraap kamu bakal jatuh lagi dengan omongan-omongan jahat yang terlontar. “ IA dan SS setuju bahwa dukungan orang sekitar entah  itu dari ibu,saudara, sahabat, pacar, dan lainnya sangat penting untuk kita saat menjalani masa-masa yang berat, kenapa? Karena kamu pasti akan merasa lebih diperhatikan, kamu dibantu untuk mendapatkan jalan keluar, atau paling tidak kamu didengarkan. Menurut IA, jangan pernah menyalahkan masa lalu untuk menjadi orang yang tertutup saat ini, karena justru masa lalu adalah pembelajaran untuk hari ini, menyalahkan masa lalu hanya mengorek luka lama yang terus terngiang di pikiran sehingga membuat kita selalu terpuruk , jika memang harus membutuhkan psikolog/psikiater jangan sungkan atau gengsi, that’s what you need guys, to make yourself better. Tidak menutup kemungkinan rata-rata anak korban KDRT muncul dendam tersendiri kepada si pelaku kekerasan, tapi kita harus membawanya ke hal yang positif, menjadikan motivasi untuk kita membuktikan kita bisa sukses kepada orang yang merendahkan kita.

“ Jadilah orang tua yang bijaksana, harus bisa terbuka dengan anak, tau porsi nya masing-masing saat memiliki masalah dengan nyokap dan anak-anaknya dan yang paling penting komunikasi sama anak itu harus dijaga itu kunci nya. Semakin anak dibentak dia akan semakin rebel kebalikannya kalau dibilangin baik-baik  tapi tegas, percaya sama gue pasti bakal di dengar kok “ ujar SS saat ditanya pesan untuk orang tua di luar sana sama dengan IA saat ditanya pesan untuk orang tua “ Jangan pernah memaksakan kehendak anak dengan apa yang kalian mau, bicarakan jika memang ada perbedaan. Zaman sudah berubah, nggak bisa lagi ngedidik anak dengan cara saat orang tua dulu dididik sama kakek nenek, bagaimanpun orang tua harus bisa mengerti bagaimana pola asuh anak yang baik dan efektif agar di dengar anak.”

 

Ditulis oleh Indah Alya Rahma

Mahasiswi London School of Public Relations

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});