Skip to main content

Anak Kuliah Sasaran Islam Radikal?

Anak Kuliah Sasaran Islam Radikal?
Anak Kuliah Sasaran Islam Radikal?

WinNetNews.com - Kelompok Islam radikal ditengarai sudah masuk ke sekolah dan perguruan tinggi. Mereka menyerang generasi muda untuk menyebarkan ideologi radikal tanpa ada kewaspadaan dari pemerintah.

Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudi mengatakan, teroris adalah sebagian kecil bahaya saja dari bahaya yang mengancam negara dan masyarakat Indonesia. Menurutnya, ada ancaman lain yang jumlahnya jauh lebih besar yakni masyarakat islam yang berpaham radikal karena mereka menyebarkan pahamnya kepada seluruh masyarakat.

"Kelompok sasaran masyarakat radikal adalah anak kuliah. Bahkan anak-anak di sekolah juga. Kita lengah mengamati perkembangan paham radikal di sekolah," katanya pada seminar Mencegah Paham Radikal di Indonesia di kantor LIPI, baru-baru ini.

Endang mengungkapkan, hasil riset menunjukkan, paham radikalisme sudah menyerap secara menyeramkan di sekolah. Dia menyebutkan, 21 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila sudah tidak lagi relevan digunakan bangsa karena 84,8 persen siswa dan 76,2 persen guru lebih setuju dengan penerapan syariat Islam. Selain itu 52,3 persen siswa setuju kekerasan untuk solidaritas agama dan 14,2 persen membenarkan aksi pemboman yang dilakukan kalangan radikal.

Dia menjelaskan, ide-ide radikalisme juga sudah ditanamkan pada anak-anak TK. Menurutnya, ada Taman Kanak-Kanak di Malang yang melarang siswanya memberikan hormat ke bendera Merah Putih karena dianggap musyrik. Selain itu penghormatan kepada bendera, mereka juga melarang siswa menyanyikan Padamu Negeri.

"Minimnya kesadaran banyak pihak tentang kiprah kelompok radikal ini serta betapa bahayanya paham yang berkembang telah menyebabkan generasi baru radikal yang bahkan lebih terpelajar," ungkapnya.

Selain itu, Endang mendapatkan informasi bahwa semua kampus sekuler telah digarap oleh Negara Islam Indonesia (NII) sehingga banyak mahasiswanya yang menjadi anggota kelompok tersebut. Di masa mendatang, kata Endang, akan lebih banyak mahasiswa yang berpaham radikal.

"Kader NII ini biasanya ditugaskan untuk merekrut kader dari kampus lain. Lalu setelah kuliah mereka akan menyebar ke berbagai instansi dan dengan militansi yang ada mereka akan bergerak menyebarkan ide-ide radikalnya," tuturnya.

Endang menambahkan, kalangan radikal Islam di Indonesia tidak hanya mempunyai paham ingin mendirikan negara Islam namun menganggap negara dan pemerintahannya tidak ada sehingga tidak harus diikuti. Karena itulah, kalangan radikal berusaha untuk mengganti simbol dan ideologi negara dengan membolehkan kekerasaan untuk melakukannya.

"Kalangan teroris adalah bagian yang paling menonjol dari kelompok radikal ini serta sangat ekspresif dalam melaksanakan ideologi mereka," tandasnya.

(seperti dilansir dari Okezone)

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top