Andi Arief Desak Soal Mafia Jiwasraya, Begini Kata Kejaksaan Agung
Foto: Warta Ekonomi

Andi Arief Desak Soal Mafia Jiwasraya, Begini Kata Kejaksaan Agung

Kamis, 26 Des 2019 | 16:40 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Kejaksaan Agung menolak untuk memberikan nama bakal tersangka kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) untuk waktu dekat ini.

“Saat ini ksmi msdih belum bisa memberikan nama. Kami masih melakukan pemeriksaan dan pengumpulan alat bukti,” papar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Mukri, dilansir dari Tempo, Kamis (26/12).

Pernyataan Mukri ini menyusul desakan politisi Partai Demokrat Andi Arief. Sebelumnya, Andi mendesak Kejaksaan Agung untuk segera mempublikasikan nama tersangka dalam kasus Jiwasraya agar isunya tak semakin melenceng kesana-kemari.

image0
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Mukri (foto: Detik.com)

Mukri berargumen bahwa perlu setidaknya dua alat bukti yang cukup. “Nanti baru bisa ditetapkan sebagai tersangka,” ucap Mukri.

Hal ini bertentangan dengan pernyataan Kejaksaan Agung di awal. Sebelumnya, Kejaksaan Agung mengatakan bahwa ada tersangka dalam pusaran kasus tersebut. aksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Adi Toegarisman, telah menerbitkan Surat Perintah Penyidikan Nomor: PRINT–33/F.2/Fd.2/12/2019 tertanggal 17 Desember 2019 dalam kasus tersebut.

image1
Politisi Partai Demokrat Andi Arief (foto: Merdeka.com)

Kasus Jiwasraya bermula dari laporan pengaduan masyarakat. Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pun mengendus adanya dugaan tindak pidana korupsi sejak 2014 sampai 2018.

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) melalui unit kerja pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis menjual produk JS Saving Plan dengan tawaran persentase bunga tinggi (cenderung di atas nilai rata-rata), berkisar antara 6,5 persen sampai dengan 10 persen, sehingga memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp 53,27 triliun.

Potensi kerugian negara dari dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) hingga Agustus 2019 diperkirakan mencapai Rp 13,7 triliun.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...