Anies Isyaratkan Ahok Untuk Introspeksi Diri
Sumber foto : Istimewa

Anies Isyaratkan Ahok Untuk Introspeksi Diri

Kamis, 5 Apr 2018 | 19:16 | Oky

Winnetnews.com - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, melontarkan kata-kata yang seharusnya membuat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berpikir dan introspeksi diri.

Kata-kata itu keluar dari Anies ketika ditanya bagaimana cara dirinya mengatasi korupsi dengan modus menitipkan pokok pikiran (Pokir) di APBD DKI Jakarta.

Awak media yang menanyakan terkait hal itu karena Ahok yang pernah mengatakan adanya koruspi lewat Pokir yang disampaikan DPRD DKI.

Menurut Anies, di Indonesia ini DPRD dan pimpinan daerah seperti gubernur banyak. Namun, ia menyatakan antara eksekutif dan legislatif tidak sampai berselisih asalkan saling menghormati, menghargai, dan menjalin komunikasi dengan baik.

"Sehingga tidak ada akomodasi kepentingan-kepentingan yang tidak sejalan dengan kepentingan publik," kata Anies (21/4/2017).

"Jadi yang aneh-aneh itu bisa ditolak dengan cara yang baik, benar, tidak buat ramai. Banyak caranya," tambah Anies.

Anies memastikan, ia akan tegas menolak adanya bentuk korupsi. Menurut dia, dalam keluarganya tidak pernah melakukan korupsi.

"Tentulah kita ini sekeluarga lahir batin antikorupsi. Orangtua yang mereka kerjakan, kami enggak pernah ambil dari republik ini, kami ingin menjaga tradisi itu," ujar Anies.

Korupsi dan Pokir

Terkait Pokir, Ahok memang pernah mengatakan dirinya mengatasi korupsi dengan modus menitipkan pokok pikiran (Pokir) di APBD DKI Jakarta.

Hal itu pula yang membuat Ahok mendapat raport merah dari DPRD karena banyak memotong Pokir dari anggota dewan.

Ahok mengaku selama Jakarta di bawah pemerintahannya banyak anggaran yang berhasil dihemat.

Mantan Bupati Belitung Timur itu sempat menunjukan lembaran kertas yang berisi grafik anggaran pokok pikiran (pokir).

"Ya memang kalau kita mau jujur, ini aku kasih liat, ini dari tahun 2011, sampai 2014, itu pokir itu meningkat. Lalu kami baru berani potong ketika pak Jokowi positif menjadi presiden. Makanya akibatnya 2014, itu dari pokir yang ada itu, kita potong, enggak kita cairkan," ucap
Bapak dari tiga orang anak itu.

Dirinya curiga mengapa dirinya mendapatkan raport merah karena tidak meloloskan pokir-pokir DPRD DKI. Sehingga, dia dianggap tidak lulus dalam menjalankan pemerintahan.

"Kita lihat ya, pokir mulai menurun dari 2012, 70 persen. Sudah mulai kita kurangi tinggal 40 persen, tapi karena nilainya besar, nah yang terjadi adalah dari silpa Rp 9 triliun, itu 7,1 itu pokir. Jadi ini yang kita tutup. itu pun masih bocor. tapi ya udahlah, makanya gara-gara ini ya raport saya enggak lulus kan," tuturnya. 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...