Apa Benar Stres dan Masalah Emosional Yang Sebabkan Migrain?

Apa Benar Stres dan Masalah Emosional Yang Sebabkan Migrain?

Jumat, 22 Apr 2016 | 17:38 | Rike
WinNetNews.com-Pada sejumlah artikel kesehatan, tak jarang kita temukan asumsi yang menyebutkan adanya hubungan migrain dengan stress atau kondisi emosional yang dialami seseorang.

Tapi, laman New York Times di salah satu rubriknya menyatakan bahwa emosi perempuan tidaklah menyebabkan migrain. Penulis di rubrik, Joanna Klein berpendapat, migrain muncul disebabkan karena adanya aktivitas otak yang abnormal, bukanlah karena gangguan emosi. Tetapi, hasil satu penelitian di tahun 2012 malah sebutkan bahwa migrain miliki kaitan dengan neurotisme (istilah medis untuk ketidakstabilan emosional). Mana yang benar dari kedua pendapat itu? Apakah faktor emosional dan stres bisa sebabkan migrain, atau malah tidak sama sekali?

Pakar neurologi Mayo Clinic di Amerika Serikat, Profesor D Todd Schwedt mengatakan, sebagian kalangan ahli ada yang anggap istilah neurotisisme kini telah usang dan tak banyak bantu dalam menjawab berbagai persoalan mengenai penyebab migrain. “Migrain adalah gangguan neurologis dan bukan respons maladaptif terhadap stres,” kata Schwedt, seperti dilansir dari Guardian , Jumat (22/4).

Dia mengungkap, adanya kecenderungan genetik yang kuat pada proses timbulnya masalah migrain dalam diri seseorang. Menurut catatannya, kurang lebih 70 persen dari pengidap migrain memiliki anggota keluarga yang mengalami penyakit serupa juga. Kendati demikian, tambah Schwedt, mekanisme munculnya migrain hingga kini belum dapat dipahami sepenuhnya para ahli. Sejauh ini, gangguan tersebut disinyalir sebagai bentuk perubahan listrik di sel-sel saraf yang tersebar di otak.

Dalam beberapa buku yang mencoba mengupas patologi migrain.Di antaranya menyebutkan bahwa migrain timbul sebab adanya sejumlah faktor, seperti stres, perubahan hormonal (ketika menstruasi), kurang tidur, konsumsi alkohol, telat makan, dan pencahayaan lampu yang terlalu terang. Namun, Schwedt tak begitu sependapat dengan asumsi itu. “Jika seseorang tanpa migrain terkena stres tingkat tinggi, mereka tetap saja tidak akan mengalami rasa sakit pada salah satu bagian kepalanya. Jadi, kita sebaiknya tidak usah terjebak dulu dengan hubungan sebab-akibat semacam itu.”

Sumber:republika.co.id

Foto: http://health.kompas.com

TAGS:

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...