Apa yang Joker Katakan tentang Dunia yang Diterornya

Sofia Citradewi
Sofia Citradewi

Apa yang Joker Katakan tentang Dunia yang Diterornya Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck dalam film Joker. (Foto: moviepilot.de)

Winnetnews.com - Sejak 1940, sang bandit ini telah dibentuk dengan bermacam rupa. Sementara film Joker versi terbaru yang sudah rilis saat ini, kontibutor BBC Nicholas Barber menelusuri sejarahnya dan bagaimana setiap inkarnasi tersebut mencerminkan eranya.

Doctor Death, The Monk, Professor Hugo Strange - Batman memiliki musuh yang penuh warna dalam beberapa petualangan pertamanya sebagai superhero buku komik, tetapi baru pada tahun kedua (1940) pertarungannya melawan kriminal, ia bertemu dengan musuh yang sama cerdiknya, tangguh dan mengintimidasi seperti dia: Joker.

Pencipta penjahat ini, Bob Kane, Bill Finger dan Jerry Robinson, mencuri ‘seringai’ permanen karakter ini dari Conrad Veidt dalam adaptasi diam-diam Victor Hugo, The Man Who Laughs (1928), dengan menambahkan kulit seputih kertas, rambut hijau dan jas ungu untuk melengkapi karakter ikoniknya.

Hampir 80 tahun kemudian, gambaran itu hampir sama, tetapi nama asli karakter itu, cerita di baliknya, metode dan motivasinya terus berkembang: si anti-hero yang diperankan oleh Joaquin Phoenix dalam film terbaru, Joker, rekaan Todd Phillips yang telah memenangkan penghargaan ini tak memiliki banyak persamaan dengan karakter senama dari delapan dekade yang lalu.

Kemampuannya untuk terus bergerak seiring waktu sambil tetap langsung dapat dikenali, membuatnya menjadi salah satu kriminal paling abadi dan paling disukai dalam sejarah budaya populer. Berikut adalah beberapa karakter Joker yang paling penting.

Harlequin kebencian (1940)

Saat kepopuleran Batman meroket dari halaman Detective Comics pada tahun 1939, genre superhero saat itu masih berkembang, dan petualangan awalnya adalah campuran apik antara fiksi detektif-partikelir-bandel dan horor-gothic. Lalu perwujudan dari campuran ini adalah Joker.

Di suatu tempat antara Moriarty dan Phantom of the Opera, ia adalah “penjahat licik kejam” yang menyela siaran radio untuk mengumumkan siapa yang akan ia bunuh dan permata apa yang akan ia curi, dan monster mengerikan yang bersembunyi di laboratorium rahasia miliknya, di bawah kuburan.

Apa yang paling mencolok dari versi asli ini, dilihat dari perspektif hari ini, adalah betapa jahatnya dia. Dia tidak tertawa, dia tidak bermain trik, dia bahkan tidak bercanda. Dia mendapatkan nom de crime dari wajahnya yang cacat dan dia menggunakan racun mereknya sendiri untuk memberikan wajah itu kepada orang lain: “Otot wajah menarik mulut orang mati perlahan-lahan menjadi seringai pucat mengerikan”. Ugh! 

Badut pangeran kejahatan (1966)

Setelah kemunculan awalnya, karakter Joker mulai sedikit diringankan. Dari algojo berdarah dingin menjadi orang banyol iseng yang dipersenjatai dengan para buzzer dan menyemprotkan bunga-bunga kancing. Pengambilan karakter yang ramah keluarga ini diabadikan pada tahun 1966 oleh Cesar Romero dalam serial TV Batman di saluran ABC, dibintangi Adam West sebagai Caped Crusader.

Narasi yang dipakai komik tahun 1940 ini menggambarkan Joker sebagai pemilik “senyum tanpa kegembiraan”, namun Joker versi Romero ini adalah kegembiraan yang dipersonifikasi. Penjahat pantomim yang terbahak-bahak, ia benar-benar menikmati skema ganjil ini dan permainan kata-katanya yang klise--dan, ini menjadi semacam Swinging 60’s, ia memiliki selera mirip Austin Power untuk dekorasi interior yang asyik dan wanita muda yang berpakaian apik.

Begitulah popularitas fenomenal dari serial Joker ini tetap menjadi interpretasi definitif bagi jutaan penggemar. Yang mengesankan, Romero lebih memilih untuk mengoleskan make-up putih di atas kumisnya daripada mencukurnya.

 

Pembunuh psiko (1986)

Serial televisi Batman dibatalkan pada tahun 1968. Sejak saat itu, Batman dan Joker kembali ke akar mengerikan mereka, sebelum makin tenggelam pada akhir 1980an melalui komik dan novel grafis yang menganggu seperti The Killing Joke, Arkham Asylum dan A Death in the Family.

Perubahan besar terjadi sejak The Dark Knight Returns (1986), masterpiece empat edisi yang ditulis dan digambar oleh Frank Miller. Pembaca komik menginginkan lebih banyak lagi karakter brutal pada masa itu--Punisher si pemicu bahagia dan Wolverine si pencabut pisau--dan Miller menggetarkan mereka dengan mengubah Batman menjadi si sadis pemecah tulang dan Joker si maniak pembunuh yang kejam.

Setelah bertahun-tahun mendekati-katatonia dalam Arkham Asylum, ia pergi ke acara bincang-bincang dan dengan santai menyatakan, “Aku akan membunuh semua orang di ruangan ini”. Dia bukan Cesar Romero--tapi Anda dapat melihat tiruan pucat dari rangkaian tersebut dalam film Joker yang baru.

Miller juga menonjolkan homo-erotisisme yang selalu ada dalam persetruan simbiotik antara seorang pria dengan lipstik merahnya dan pria lain dengan jubah dan celana ketatnya. Joker menyebut Batman “darling” dan “my sweet”, itu mengungkapkan cinta dalam love-hate relationship mereka.

Gangster (1989)

Kesuksesan The Dark Knight Returns dan The Killing Joke yang menghidupkan kembali genrenya, menyebabkan film Batman pertama rekaan Tim Burton, di mana Michael Keaton memerankan Batman--atau lebih tepatnya The Batman--tertutup oleh Joker Jack Nicholson. Sesuai dengan gaya Art Deco film ini, ia menjadi semacam throwback ke film gangster Warner Bros tahun 1930-an dan 1940-an.

Sebelum ia menjadi penjahat kelas kakap berambut hijau, ia adalah Jack Napier, tangan kanan ayah baptis mafia Gotham City. Begitu ia menjadi Joker, kegilaannya yang mengundang tawa, memberi penghormatan kepada James Cagney di akhir White Heat. Terjepit di antara The Untouchable (1987) dan Dick Tracy (1990), Batman versi Burton adalah bagian dari tren Hollywood untuk film-film gangster retro saat itu. Dan, datang begitu cepat setelah Wall Street (1987), ia juga merupakan bukti bahwa penonton bioskop tahun 1980-an menyukai orang-orang jahat mereka menyombongkan diri di sekitar ruang dewan dengan pakaian mahal.

Sang Anarkis (2008)

Batman: The Killing Joke (1988) adalah cerita asal-usul Joker yang tak disukai penulisnya (Alan Moore) maupun artisnya (Brian Bolland), tetapi novel grafis mereka sangat berpengaruh. Tim Burton mengutipnya sebagai komik favorit, dan Christopher Nolan pasti sudah memikirkannya ketika dia (bersama rekan penulis sekaligus saudaranya, Jonathan Nolan) menata ulang Joker untuk trilogi film Batman kedua, The Dark Knight (2008).

Dalam The Killing Joke, Joker adalah seorang filsuf anarkis yang berpendapat bahwa menjadi irasional adalah rasional. Dalam The Dark Knight, Heath Ledger si “agen kekacauan” yang rusak dan berantakan juga sama-sama tertarik pada nihilisme remaja. “Satu-satunya cara hidup yang masuk akal di dunia ini adalah tanpa aturan,” katanya, ketika Batman mementalnya di ruang interogasi polisi. Menggemakan pemberontak Generasi-X di The Matrix and Fight Club, ia tidak peduli mencari berlian atau memerintah Gotham City. Seperti yang dikatakan Alfred Michael Caine, “Beberapa pria hanya ingin menyaksikan dunia terbakar.”

Korban (2019)

Film Joker terbaru (Joaquin Phoenix) saat ini meminjam pula cerita dari The Killing Joke, dengan cara yang sama menelusuri asal-usulnya dan menghadirkannya sebagai seorang yang bertahan tegak, yang sebelumnya di-bully, diabaikan, dan umumnya dianiaya oleh masyarakat.

Berbeda dengan The Dark Knight, drama rekaan Todd Phillips ini menghadirkan dia lebih sebagai korban daripada penjahat, anak mami yang membunuh hanya orang-orang yang berlaku kejam kepadanya, dan yang lebih memilih pergi berkencan daripada melakukan kejahatan.

Tetapi apakah dia benar-benar layak mendapatkan simpati kita? Beberapa komentator justru khawatir bahwa karakter Joker ini dapat mendorong perilaku penembakan massal. Sementara yang lain menyebutnya sebagai simbol protes revolusioner yang tepat waktu. Namun, karakter sebesar Joker akan selalu menimbulkan arti yang berbeda bagi tiap orang--dan itulah salah satu tema yang disentuh oleh film itu sendiri.

Todd Phillips


 

Artikel ini diterjemahkan dari versi bahasa Inggris, What the Joker says about the world he terrorise, di laman BBC Culture. Penulis: Nicholas Barber

 

Apa Reaksi Kamu?