Apakah Anak Harus Selalu Menjadi Korban Kekerasan?

Oky
Oky

Apakah Anak Harus Selalu Menjadi Korban Kekerasan? Sumber Foto : Istimewa

Winnetnews.com - Apakah anak harus selalu menjadi korban kekerasa?Anak adalah tumpuan dan harapan para orang tua dan anak jugalah yang akan menjadi penerus bangsa. Wajib dilindungi maupun diberikan kasih sayang oleh orang-orang disekitarnya. Namun, beberapa orang justru memberikan tindakan secara kekerasan secara fisik, seksual, penganiayaan emosional, atau pengabaian terhadap anak tersebut. Ironisnya pelaku kekerasan terhadap anak biasanya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan si anak tersebut, seperti keluarga, guru maupun temannya. Tentu ini akan memicu trauma pada anak, misalnya menolak pergi ke sekolah setelah tubuhnya di hajar/di lecehkan oleh gurunya sendiri.

Banyak berita di media saat ini tengah membahas kekerasan dan penganiayaan terhadap anak yang terjadi hampir di seluruh penjuru Indonesia. Banyak juga orang tua menganggap kekerasan terhadap anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak sehingga mereka lupa bahwa orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya.

Kekerasan terhadap anak dapat diartikan sebagai perilaku yang sengaja maupun tidak sengaja yang ditujukan untuk mencederai atau merusak anak, baik berupa serangan fisik maupun mental. Kondisi ini sangat memprihatinkan, namun bukan berarti tidak ada penyelesaiannya. Perlu kordinasi yang tepat di lingkungan sekitar anak terutama pada lingkungan keluarga untuk mendidik anak tanpa menggunakan kekerasan, menyeleksi tayangan televisi maupun memberikan perlindungan serta kasih saying agar anak tersebut tidak menjadi anak yang suka melakukan kekerasan nantinya.

Dampak dari kekerasan anak pun bisa menghambat pada pertumbuhan , mental , dan kesehatan fisiknya seperti:

  1. Perkembangan otak yang keterbelakangan
  2. Ketidak seimbangan antara kemampuan sosial, emosional, dan kognitif
  3. Gangguan kecemasan dan depresi
  4. Trauma
  5. Sulit focus
  6. Gangguan makan
  7. Tidak nyaman dengan sentuhan fisik
  8. Usaha bunuh diri
  9. Luka bakar
  10. Sulit berjalan atau duduk

(Sumber: IDN Times)

Kekerasan terhadap anakpun sangat marak di Indonesia menurut IDN Times, didata tersebut kekerasan fisik dan korban kebijakan itu lebih besar sampai 76%. Dinomer kedua ada kekerasan seksual terhadap guru yang tidak di laporkan ke KPAI sebanyak 13% ini di karenakan adanya ancaman terhadap anak tersebut seperti tidak naik kelas atau diturunkan rankingnya apabila anak/korban melaporkan perbuatan guru/pelaku kepada pihak sekolah atau orang tua. Kekerasan psikis menurut data yang terkumpul 9% dan kekerasan seksual 2%. Kekerasan pada anak ini pun di lakukan oleh oknum guru honorer.

Anak laki – laki maupun perempuan rentan jadi korban kekerasan , khususnya pada kisaran usia 13 – 17 tahun. Selama April – Juni 2018, KPAI melakukan penanganan dan pengawasan pelanggaran hak anak sebanyak 33 kasus. Kekerasan terhadap anak pun berdampak pada pertumbuhan anak karena mengalami trauma berat, cedera fisik, bahkan sampai mengakibatkan kematian.

Sebanyak 98 kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak tercatat terjadi di Kota Bekasi sejak Januari hingga September 2018. Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Pada Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Bekasi, Mien Aminah mengatakan, dari 98 kasus itu, paling banyak pelakunya adalah orang terdekat korban.

Kondisi korban kekerasan dan penganiyaan orang dewasa, berinsial M (5) mengalami trauma berat. Trauma berat yang dideritanya membuat bocah berusia lima tahun itu enggan ditemui orang. Bocah korban penganiyaan saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Selatan.

Mien mengatakan, trauma itu didapat dari dugaan kekerasan yang dilakukan terhadap M hingga mengalami luka dibagian kepala. Dugaan kekerasan anak menimpa bocah perempuan berinisial M (5). Peristiwa itu terjadi di kediamannya di Jatibening Baru, Pondok Gede, Kota Bekasi, pada Sabtu (22/9/2018).

Korban dianiaya teman ibu korban hingga mengalami luka berat bagian wajah dan kepala. Kepolisian juga telah melakukan pemeriksaan kepada saksi-saksi guna penyelidikan lebih lanjut.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan maraknya kasus kekerasan anak yang terjadi selama dua pekan di tahun 2018. Kasus-kasus kekerasan tersebut mayoritas terjadi ranah-ranah privat atau di dalam rumahnya sendiri. Karena itu lembaga tersebut meningatkan perlunya kesadaran dan komitmen bersama untuk melindungi anak dari ancaman kekerasan.

Melihat banyaknya fenomona kekerasan anak di tahun 2018 ini sudah semestinya masyarakat dapat mengidentifikasi keluarga-keluarga rentan di sekitarnya, agar kejadian-kejadian kekerasan terhadap anak dapat dihindari. Keluarga yang berpotensi rentan untuk melakukan kekerasan yang ada di masyarakat di antaranya adalah keluarga yang berpisah, memiliki keluarga baru, memiliki anak di luar perkawinan dan keluarga yang mengalami tekanan ekonomi dan sosial.

Ketika keluarga berpisah harus dipastikan pengasuhan ada pada orang yang tepat. Hal ini harus dilakukan, dan jika tidak maka anak rentan mengalami kekerasan dari orang tua baru. Sering kali masalah-masalah yang dihadapi orang tua dilampiaskan kepada anak. Oleh karenanya, masyarakat perlu memperhatikan kondisi sosial dan kesehatan mental pada orang tua disekitarnya sehingga dapat melakukan upaya prenventif jika tanda-tanda kekerasan disekitarnya.

Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) di Kabupaten Bekasi mencatat, kasus kekerasan terhadap anak dari awal tahun hingga september ini berjumlah 40 kasus. Jumlah itu lebih tinggi dibanding sepanjang tahun 2017 yang berjumlah 35 kasus. Kasus pelecehan seksual pada anak ini pun dibagi-bagi. Ada kasus persetubuhan anak di bawah umur, seks bebas suka sama, dan lain-lainnya. Yang menjadi sorotan KPAD Bekasi adalah meningkatnya kasus sodomi. KPAD mencatat pada Maret hingga April 2018, terdapat empat kasus sodomi yang terjadi di empat Kecamatan.

Meningkatnya kasus kekerasan pada anak disebabkan antara lain karena kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya. Orang tua sekarang banyak yang sudah sibuk sendiri, kurang komunikasi dengan anaknya. Tidak tahu anaknya pulang atau pergi, lalu anaknya mengalami kekerasan oleh orang lain sehingga anak tersebut menjadi depresi atau membentuk kepribadian nya dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain.

DKI Jakarta menjadi kota paling banyak ditemukan kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Jabodetabek. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat sebanyak 667 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di wilayah DKI Jakarta. Lalu di Jakarta Timu menjadi daerah paling banyak ditemukan kasus kekerasan anak dengan jumlah 239 kasus diikuti Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Sebanyak 58 persen dari seluruh kasus pelanggaran hak anak tersebut merupakan kekerasan seksual.

(Sumber: www.merdeka.com)

Dampak kekerasan pada anak tidak hanya berasal dari kekerasan fisik semata melainkan juga berasal dari kekerasan emosional, dan keduanya sama buruknya karena dapat mengganggu perkembangan emosional serta fisik anak, dan juga dapat mengganggu proses tumbuh kembang termasuk mengganggu perkembangan kecerdasannya. Anak yang mengalahi kekerasan menurut penelitian akan tumbuh menjadi anak yang bermasalah perilakunya. Oleh karena itu, masalah ini merupakan suatu masalah serius yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Kita harus waspada terhadap kondisi anak mengetahui bagaimana depresi dalam psikologi, ciri-ciri depresi berat, tanda-tanda depresi sebenarnya mencari tanda-tanda yang tidak biasa agar anak terhindar dari masalah kekerasan tersebut.

Pencegahan nya pun dengan cara menjadikan pendidikan agama, budi pekerti, dan nilai Pancasilla sebagai landasan berpikir dan bertindak. Orang tua pun harus memulai duluan, karena anak akan mencontoh orang-orang dewasa yang menjadi panutan. Lingkungan keluarga pun menjadi panutan anak saat diluar disaat si anak bergaul dengan temannya dengan baik. Selain keluarga, peran institusi pendidikan juga menjadi peran penting. Karena institusi pendidikan punya sumber daya dan kemampuan untuk menanamkan kesadaran baik moral, budi pekerti, dan pembentukan karakter anak.

Insiden kekerasan terhadap anak yang terjadi di Palembang , diduga cemburu ke istri, ayah tiri siksa anak hingga patah tulang. Kekerasan ini menimpa MR (nama disamarkan) yang berumur tiga tahun mengalami luka lebam dan patah kaki, diduga disiksa ayah tirinya yang berinisial HJ. Kasus ini terbongkar setelah sang ibu Febi Adela (21) melaporkan suaminya ke polisi.

“Anak saya BAB. Saat akan dibersihkan, ternyata anak saya sudah tidak bisa berdiri. Bahkan mengeluh kesakitan sambil gemetar. Sakit ma, sakit ma,” kata Febi seraya menirukan perkataan sang anak saat ditemui di Polresta Palembang, Selasa(30/10/2018).

Febi sempat menanyakan kepada suaminya. Namun suaminya mengatakan kalau anaknya jatuh. Febi lalu memintan uang kepada suaminya untuk diurut. Tapi suaminya tidak memberikannya dengan alas an tidak memiliki uang. Febi pun mengakui jika perilaku suaminya sedikit berubah dari sebelumnya. HJ sering marah di duga karena cemburu.

Febi sendiri merasa tidak tahan lagi dengan perilaku suaminya. Sehingga dia memilih keluar dari rumah dan melaporkannya ke Polresta Palembang.

Menurut Reza Indragiri sebagai Kabid Pemenuhan Hak Anak LPAI frustasi seringkali membawa kekerasan karena anak rewel dan lain lain tetapi bukan hal yang benar kalau karna hal tersebut anak menjadi korban kekerasan. Anak menjadi rentan menjadi kekerasan dikarenakan anak memiliki psikis nya lemah dalam pengertian mengidentifikasi situasi dan mengindetifikasi saya harus mencari pertolongan kepada siapa.

Lemah secara fisik, lemah secara psikis, relatif lemah secara sosial, tiga faktor ini yang menjadikan anak memang sebagai calon-calon korban potensial. Indonesia dalam keadaan memprihatikan kekerasan terhadap anak. Mengambil sisi positif viralnya video anak mengalami kekerasan dan dapat tanggapan marahnya masyarakat dan menanggapi itu mengambil sisi positif karena masyarakat masih peduli terhadap kekerasan terhadap anak.

 

Ditulis oleh Izky Sidhunata

Mahasiswa London School of Public Relations

Apa Reaksi Kamu?