Apakah Benar Kita telah Merdeka? - Sebuah Renungan

Dani Gunawan
Dani Gunawan

Apakah Benar Kita telah Merdeka? - Sebuah Renungan
WinNetNews.com - Tidak terasa sudah 70 tahun kita merayakan hari kemerdekaan negara kita tercinta, Republik Indonesia. Berbagai acara demi acara dilakukan untuk memperingatinya, dari tingkat gang, RT, kelurahan, hingga tingkat nasional. Kita berusaha untuk membuat hari itu sebagai hari yang istimewa. Tetapi, benarkah kita sudah merdeka? Jika benar, seperti apa wujudnya? Siapa yang sesungguhnya merdeka?

Tulisan yang saya sampaikan bukanlah sesuatu yang harus ditanggapi dengan sebuah kritikan atau penyalahbenaran terhadap sebuah fakta, tetapi ini merupakan buah pikir saya selama 13 tahun mencari "pembenaran" terhadap sesuatu yang secara umum dibilang "Tuhan". Hal itu secara khusus menjadi tujuan hidup saya selama ini, karena--dengan prinsip yang dianut--saya sebenarnya berharap, dengan menemukan "pembenaran" akan Tuhan yang saya sembah, akan "memerdekakan” saya untuk memilih agama yang harus dianut dan diimani sampai akhir hayat nanti.

Tulisan ini pun tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan maupun keyakinan siapa pun. Seandainya ada hal-hal dalam tulisan yang menyinggung perasaan bahkan keyakinan saudara sekalian, itu semata adalah ketidakpandaian saya dalam mengolah topik yang mungkin lebih saudara-saudara kuasai. Jadi, mohon dibaca dengan kepala dingin.

 

Apa merdeka itu?

Merdeka berarti bebas, berasal dari bahasa Sansakerta Maharddhika yang memiliki makna kekayaan, kemakmuran dan kekuasaan. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata merdeka tertulis sebagai berikut, mer·de·ka /merdéka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri.

Jika kita mengacu kepada naskah teks Proklamasi negara kita: “... Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan ‘Kemerdekaan’-nya ...." Harapan para pejuang dan semua tokoh proklamasi adalah negara Indonesia yang bebas dari perhambaan, penjajahan, negara kaya, makmur, dan berkuasa atas diri sendiri.

Hal itu juga tersurat dalam Pembukaan UUD '45, “... Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan ....” Sungguh kalimat singkat yang penuh dengan makna yang sangat dalam pengertiannya. Saya rasa ini bukan hanya berlaku untuk negaranya, melainkan juga untuk semua bangsa Indonesia. Dengan kata lain, bangsa Indonesia adalah bangsa yang bebas dari perhambaan, penjajahan, kaya, makmur, dan berkuasa atas diri sendiri.

Demi melihat kenyataan yang ada saat ini, melihat dan meresapi makna merdeka itu rasanya seperti sedang menggantang asap. Seolah-olah kita berdiri di samping tukang sate, tetapi tidak mampu membelinya. Badan bau asap sate, tetapi kita tidak menikmati satenya. Ironi sekali bahwa setelah 70 tahun berlalu harapan dari para pendiri bangsa ini tidak lain hanya sebuah fatamorgana.

Itu bisa dilihat dari mulai dari karut-marutnya iklim politik di parlemen, ekonomi yang "digantung" bangsa lain, kurikulum sekolah yang kurang tepat guna (mayoritas anak lulusan SMU di negara sekecil Singapore mampu berniaga untuk mendukung uang jajannya sendiri-sendiri, bandingkan dengan lulusan perguruan tinggi kita yang masih bingung mencari pekerjaan setelah lulus, bahkan pernah suatu hari saya meng- interview seorang sarjana pertanian cum laude dengan indeks prestasi 3,86--yang datang ke walk in interview --hanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang dia sendiri tidak memahami apa pekerjaan yang dilamarnya.), hingga ke politisasi agama, agama-agama kosong yang mudah diisi oleh apa saja demi sebuah tujuan kelompok untuk kepetingan sebagian golongan tertentu.

 

Sampai pada titik persoalan agama tadi, saya sudah mulai berpikir ada apa sebenarnya dengan bangsaku ini...lebih tepatnya apakah benar agama yang saya anut ini? Saya bukan ahli politik, ekonomi atau pendidikan. Itu sebabnya, saya tidak ingin panjang lebar membahasnya di ranah itu. Tetapi, jika sudah menyangkut agama, ini adalah ageman atau pegangan hidup, yang mau tidak mau saya harus benar-benar merdeka dalam menjalaninya tanpa ada embel-embel atau politisasi.

Sebelum kita membahas mengenai agama, ada baiknya kita membahas sedikit tentang sejarah bangsa Indonesia. Ya, sejarah bangsa kita, pelajaran yang paling saya sukai sejak saya SD. Walaupun pelajaran ini pun ternyata banyak dipolitisasi, izinkan saya dengan bahasa saya mengajak saudara-saudara kembali ke masa lalu membahas tentang asal-usul bangsa kita tercinta ini, termasuk peradaban sebelum masuknya agama-agama impor yang ada saat ini hingga proklamasi kemerdekaan RI.

Mari kita mulai....

Perihal Penulis:

image0

HENDRI SENTOSA

Pelaku Bisnis; Seorang Professional Trainer , Konsultan, Certified Professional HR, Certified trainer Asia dan Certified Hypnotist yang pernah berpetualang dan bermukim di Mekkah, Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, sampai Sulawesi; pernah menjadi Country Manager untuk Negara Malaysia, Indonesia, dan Singapura di sebuah perusahaan Internasional; dan Pembantu Pelatih Di Organisai Persaudaraan Kejiwaan SUBUD

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});