Apes, Dua Pria Gay Ditangkap dan Akan Dihukum Cambuk di Aceh
Foto: Istimewa

Apes, Dua Pria Gay Ditangkap dan Akan Dihukum Cambuk di Aceh

Kamis, 18 Mei 2017 | 10:09 | Fellyanda Suci Agiesta

WinNetNews.com - Dua pria gay harus dicambuk secara publik 85 kali masing-masing di bawah undang-undang syariah setelah difilmkan oleh warga di Indonesia. Kejadian ini berada di Aceh.

Sebuah pengadilan Islam di provinsi Aceh mengeluarkan hukuman pertamanya untuk homoseksualitas pada Hari Internasional Melawan Homofobia dan Transfobia, meskipun ada seruan internasional untuk mengimbangi pasangan tersebut.

Salah seorang pria menangis saat hukuman dibacakan dan meminta keringanan hukuman dari panel tiga hakim.

Namun jaksa penuntut, Gulmaini, mengatakan bahwa pasangan tersebut akan dicambuk minggu depan menjelang dimulainya bulan suci Ramadhan.

Hakim ketua Khairil Jamal mengklaim bahwa mereka terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan hubungan seks gay,namun mengatakan bahwa panel tersebut memutuskan untuk tidak memaksakan hukuman maksimal100 cambukan,karena orang-orang tersebut sopan di pengadilan, bekerja sama dengan pihak berwenang dan tidak memiliki keyakinan sebelumnya.

"Sebagai Muslim, para terdakwa harus menegakkan hukum syariah yang berlaku di Aceh," tambahnya.

Jaksa telah meminta hukuman 80 kali lebih sedikit dari 80 cambukan masing-masing dan mengklaim bahwa pasangan tersebut melepaskan hak mereka atas pengacara pembela.

Human Rights Watch mengutuk keputusan tersebut, menyusul meningkatnya kekhawatiran tentang serangan terhadap kaum minoritas dan kekhawatiran akan keragaman dan pluralisme di Indonesia.

"Orang-orang muda ini adalah dua orang Indonesia yang tidak menginginkan apapun selain menjalani hidup mereka dan memiliki privasi mereka yang dihormati. Sekarang mereka menunggu cambuk di depan umum," kata Kyle Knight, seorang peneliti hak LGBT di Human Rights Watch.

Pria berusia 20 dan 23 tahun, bertemu di sebuah apartemen sewaan di kota Banda Aceh pada tanggal 28 Maret 2017.

Rekaman itu kemudian digunakan sebagai bukti penuntutan dan memanggil polisi syariah setempat.

Seorang pria telanjang jelas terlihat tertekan saat dia meminta bantuan di telepon genggamnya, sementara yang lain berulang kali didorong oleh petugas keamanan untuk mencegah mereka melarikan diri, mengemis: "Tolong, saudara, tolong berhenti ... orang tua saya ingin berbicara denganmu, mereka dapat memilih saya bangun. "

Kode syariah Aceh memungkinkan hingga 100 kali cambukan karena pelanggaran "moralitas" termasuk perzinahan, perjudian, minum alkohol, wanita yang mengenakan pakaian ketat dan pria yang melewatkan shalat Jumat.

Hukuman tersebut dikenakan pada 339 orang pada tahun 2016, meskipun diakui sebagai penyiksaan menurut hukum internasional.

Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariah yang dibawa dua tahun lalu sebagai konsesi yang dibuat oleh pemerintah nasional pada tahun 2006 untuk mengakhiri perang dengan separatis.

Reformasi memungkinkan anggota masyarakat serta polisi syariah khusus untuk secara terbuka mengidentifikasi dan menahan siapa saja yang dicurigai melanggar peraturannya, yang secara khusus melarang seks (sodomi) dan musahabah (seks lesbian).

Mereka telah melihat beberapa tersangka LGBT ditahan, termasuk dua gadis remaja yang ditangkap pada tahun 2015 karena dicurigai sebagai lesbian setelah merangkul di depan umum, karena parlemen negara secara bertahap telah mengadopsi undang-undang garis keras untuk mengkriminalkan wanita yang tidak memakai jilbab, minum alkohol, berjudi, dan di luar nikah seks.

Homoseksualitas tidak ilegal di tempat lain di Indonesia namun sebuah kasus di hadapan Mahkamah Konstitusi di negara tersebut berusaha mengkriminalkan hubungan sesama jenis dan hubungan seksual yang disengaja di luar nikah.

Pejabat pemerintah setempat telah dituduh memicu homofobia dengan pernyataan peradangan, termasuk klaim wakil walikota bahwa komunitas LGBT adalah "ancaman" dan harus "dilatih untuk kembali ke kehidupan normal".

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...