Arab Saudi Bakal Tak Andalkan Minyak untuk Topang Perekonomian

Arab Saudi Bakal Tak Andalkan Minyak untuk Topang Perekonomian

WinNetNews.com - Kabinet Arab Saudi telah menyetujui reformasi ekonomi guna menghilangkan ketergantungan dari pendapatan yang berasal dari minyak.

Tahun lalu, 75 persen pendapatan negara itu beraaal dari minyak, namun sayangnya harga minyak dunia tengah jatuh.

Salah satu rencana reformasi ekonomi tersebut adalah rencana penjualan saham raksasa minyak milik negara, Aramco untuk menciptakan sebuah sovereign wealth fund.

Dalam pengumumannya tentang reformasi ekonomi, Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman menyatakan Arab Saudi sudah kecanduan minyak.

Dalam Visi 2030 yang diumumkannya, Pangeran Mohammed menyatakan bahwa Arab Saudi dapat hidup tanpa minyak pada tahun 2020 mendatang.

Ia mamaparkan, setidaknya 5 persen saham Aramco, perusahaan yang bervaluasi hingga 2,5 triliundollar AS, akan dijual.

 

"Beberapa hasil penjualan akan dialokasikan ke sovereign wealth fund. Sistem visa baru akan mengizinkan ekspatriat Muslim dan Arab untuk bekerja dalam jangka waktu lama di Arab Saudi," jelas dia, seperti dikutip dari BBC, Selasa (26/4/2016).

Selain itu, Arab Saudi juga bakal mendiversifikasi ekonomi, salah satunya dengan investasi di pertambangan mineral dan memperlebar produksi militer. Arab Saudi juga memastikan peningkatan partisipasi wanita dalam ketenagakerjaan.

Menurut Pangeran Mohammed, penjualan saham Aramco akan menjadi peristiwa yang fantastis. Menurut dia, menjual 1 persen saham Aramco saja akan melampaui penjualan saham raksasa seperti Facebook maupun Alibaba.

Dana Moneter Internasional (IMF) pun mencermati langkah reformasi ekonomi Arab Saudi ini.

Menurut lembaga internasional tersebut, rencana ini merupakan upaya yang ambisius dan tidak mudah diraih, serta memperingatkan Arab Saudi akan beragam tantangan yang akan dihadapi.

Sumber&Foto dari Kompas, Jakarta