Asal Mula Ekonomi Indonesia Melambat

Asal Mula Ekonomi Indonesia Melambat

WinNetNews.com - Perlambatan ekonomi Indonesia tidak terjadi tiba-tiba. Ada rangkaian panjang yang menjadi penyebab ekonomi Indonesia meninggalkan titik puncaknya.

Mulai dari persoalan krisis Yunani, kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) hingga situasi pemerintahan dalam negeri. Darmin Nasution, menjadi salah satu yang mengikuti perkembangan tersebut dalam berbagai jabatan.

Semua dimulai ketika Darmin masih menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI) sampai sekarang menjabat Menteri Koordinator Perekonomian.

Dalam acara sosialisasi paket kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), Darmin menceritakan asal muasal ekonomi Indonesia melambat.

"Sebetulnya sejak pemerintahan baru ini, itu pemerintah sudah menghadapi situasi perlambatan ekonomi dan itu sudah berjalan beberapa tahun. Kalau kita buka data, proses ini mulai sejak krisis Yunani pada kuartal IV-2011," ujar Darmin dalam pidatonya di Graha Sawala, Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta,, Kamis (15/10/2015)

Kondisi Yunani saat itu menyebar ke beberapa negara Eropa dan Asia. Darmin‎ menuturkan, Indonesia sebenarnya sudah terkena dampak, meskipun kecil. Ini dapat dilihat dari penurunan ekspor hasil Sumber Daya Alam (SDA)‎ yang sebelumnya menopang pertumbuhan ekonomi cukup besar.

"Waktu itu andalan ekonomi kita dalam membentuk dinamika pertumbuhan ekonomi, yaitu ekspor hasil SDA, tiba-tiba mulai merosot dengan cepat, itu satu perkembangan yang terjadi secara global. Dia tidak terlalu drastis, hanya karena ekonomi China belum kena waktu itu," paparnya.

 

Ekspor yang merosot juga berpengaruh terhadap transaksi berjalan (current account), dengan defisit yang semakin melebar. Defisit transaksi berjalan merangkak naik ke posisi 3% terhadap PDB. Kondisi semakin memburuk setelah akhir 2012, realisasi pertumbuhan ekonomi China tak sesuai espektasi.

"Situasi semakin (buruk) dalam persoalannya, ketika perlambatan ekonomi Tiongkok juga terkena dampaknya. Pemerintah baru kemudian mncoba menjawab itu," kata Darmin.

Pemerintah yang waktu itu masih dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil kebijakan yang berfokus pada dua hal. Pertama adalah percepatan masuknya investasi dan kedua mendorong realisasi‎ belanja dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih cepat dari biasanya.

Terkait investasi, Darmin mengaku agak pesimis. Sebab akan sangat sulit menarik investasi, sementara ekonomi dunai sedang melambat. Meskipun dengan tawaran proyek-proyek berskala besar.

"Bagaimana caranya saat ekonomi dunia sedang melambat? Itu kurang sejalan. Maka itu mencoba mengidentifikasi proyek-proyek besar dan mengundang investor datang setelah dirumuskan berbagai fasilitas," ungkapnya.

Sementara itu, untuk percepatan realisasi belanja juga menyulitkan pemerintah. Karena ada masalah kebiasaan birokrat yang harus diubah dalam waktu singkat. Pemerintah pun kemudian berupaya cukup keras.

"Keduanya diperhatikan betul itu tujuannya sama, mencoba meningkatkan aktivitas ekonomi dari investasi pemerintah, belanja pemerintah agar ekonomi mulai bergerak positif," tegas Darmin.

 

Memasuki 2013, masalah baru muncul, yaitu AS yang memberikan sinyal penghentian stimulus dan berlanjut kepada kenaikan tingkat suku bunga acuan.

"AS mulai membayangkan akan naiknya tingkat bunga. Apa artinya untuk negara emerging market (berkembang)? Ada satu istilah yang namanya flight to quality, dana-dana yang tadinya menyebar ke seluruh dunia, tiba-tiba pulang ke kandangnya. Sehingga selain ada perlambatan, itu kurs bergejolak," paparnya.

Untungnya, pemerintah cukup mampu menjaga inflasi. Meskipun pada pertengahan 2013, pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar. Inflasi pada 2013 bisa dijaga tidak melebih batas 8%.

"Satu lagi jangan sampai terjadi gejolak harga, dalam pengertian inflasi. Kalau itu datang, maka rada komplit persoalan," tegas Darmin.

Memasuki 2015, ekonomi Indonesia masih melambat. Pada kuartal I, ekonomi hanya mampu tumbuh 4,7% dan kuartal II lebih rendah sedikit dengan realisasi 4,67%. Sampai dengan akhir tahun 2015 diproyeksikan ekonomi bisa mencapai kisaran 4,8-5%.