Awal Pekan, Bursa Asia Dibuka Melemah
ilustrasi

Awal Pekan, Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 21 Mei 2018 | 09:19 | Muchdi

WinNetNews.com - Bursa Asia mengalami tekanan di awal perdagangan Senin pekan ini. Investor masih mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Dikutip dari situs Liputan6 dari laman CNBC, (21/5/2018), Nikkei 225 Jepang naik tipis 0,13 persen di awal perdagangan. Sedangkan untuk TOpix masih ke zona negatif didorong oleh saham-saham asuransi dan pembuat baja. Sementara untuk sektor pertambangan menguat.

Di Korea Selatan, indeks Kospi tergelincir 0,26 persen dengan tekanan tertinggi dialami oleh saham-saham teknologi dan pembuat baja.

Pelemahan serupa juga dialami oleh indeks S&P/ASX 200 Australia yang merosot 0,24 persen karena saham-saham di sektor keuangan.

Indeks MSCI Asia Pasifik kecuali Jepang naik tipis 0,16 persen di perdagangan pagi ini.

Investor terus mencermati perkembangan hubungan dagang antara AS dengan China. Sebenarnya, ketakutan akan perang dagang mulai mereda setelah Menteri Luar Negeri AS Steven Mnuchin pada hari Minggu kemarin mengatakan bahwa akan ada pembicaraan lebih dalam antara kedua perusahaan untuk membicarakan masalah perdagangan untuk menghindari perang dagang.

Kedua negara telah setuju secara subtansi untuk mengurang defisit anggaran masing-masing.

"Secara keseluruhan pada melihat sisi positif tetapi mereka akan terus melihat perkembangannya," jelas analis ANZ dalam catatannya pagi ini.

image0

Penutupan Wall Street

Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin, Wall Street berakhir melemah setelah sebelumnya sempat terombang-ambing antara dua wilayah. Saham sektor perbankan dan saham teknologi menjadi pemberat gerak indeks bursa di Amerika Serikat (AS) tersebut.

Dow Jones Industrial Average bergerak mendatar dan mengakhiri sesi di 24,715.09. Untuk S&P 500 kehilangan 7,16 poin atau 0,26 persen menuju 2.712,97. Sedangkan Nasdaq Composite turun 28,13 poin atau 0,38 persen menjadi 7.354,34.

Secara mingguan, ketiga indeks utama tersebut membukukan kerugian karena pasar bereaksi negatif terhadap laporan dari pertemuan perdagangan antara AS dengan China.

Selain itu, tekanan di pasar saham juga diakibatkan oleh kenaikan imbal hasil obligasi surat utang pemerintah AS dan kenaikan harga minyak dunia.

"Saya pikir semua orang tengah menunggu hasil pembicaraan perdagangan AS-China yang saat ini tengah berlangsung. Selain itu juga ada kecemasan di harga minyak," jelas analis Bruderman Asset Management, New York, AS, Oliver Pursche.

China membantah laporan dari beberapa pejabat AS bahwa mereka telah menawarkan paket kebijakan untuk memangkas defisit perdagangan AS hingga USD 200 miliar. Menurut China mereka masih melakukan diskusi untuk hasil yang lebih baik.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS berjangka waktu 10 tahun kembali ke level tertinggi hampir tujuh tahun yang didorong oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi juga menjadi pemberat gerak Wall Street.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...