Awal Pekan, Bursa Saham Asia Bergerak Menguat
ilustrasi

Awal Pekan, Bursa Saham Asia Bergerak Menguat

Senin, 7 Mei 2018 | 09:28 | Muchdi

WinNetNews.com - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan saham awal pekan ini. Hal itu seiring rilis data ekonomi upah di Amerika Serikat (AS) melambat sehingga kurangi risiko kenaikan suku bunga lebih cepat oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve.

Penguatan bursa saham Asia terjadi di tengah masih ada ketegangan hubungan perdagangan antara China dan AS. Ditambah tenggat waktukesepakatan nuklir Iran.

Pada awal pekan ini, indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen. Indeks saham Jepang Nikkei cenderung mendatar. Indeks saham Australia menguat 0,2 persen.

Rilis data ekonomi  AS yang berdampak ke wall street pengaruhi bursa saham Asia. Data laporan pekerjaan AS pada Jumat pekan lalu menunjukkan pengangguran turun ke level terendah 3,9 persen. Akan tetapi upah tetap lamban. Ini menunjukkan the Federal Reserve atau bank sentral AS akan menaikkan suku bunga secara bertahap.

Hal itu mendorong bursa saham AS atau wall street menguat. Indeks saham Dow Jones naik 1,39 persen. Sedangkan indeks saham S&P 500mendaki 1,28 persen dan indeks saham Nasdaq bertambah 1,71 persen.

Saham Apple Inc mencapai rekor tertinggi usai Warren Buffett melalui perusahaan investasinya Berkshire Hathaway Inc mencatatkan kenaikan kepemilikan saham di Apple. Pada pekan ini bursa saham Asia akan dipengaruhi rilis data ekonomi China dan Amerika Serikat.

Dolar AS Menguat

Selain itu, laporan data ekonomi AS juga kontras dengan data ekonomi Eropa. Hal ini mengangkat dolar AS ke level tertinggi terhadap euro pada 2018. Dolar AS juga mencapai level tertinggi sejak Desember terhadap sekeranjang mata uang lainnya. Indeks dolar Asamberada di posisi 92,57. Mata uang dolar AS terhadap yen di posisi 109,03. Sebelumnya posisi dolar AS terhadap yen mencapai level tertinggi 110,05.

Seperti dikutip dari Liputan6 dari laman Reuters, Senin (7/5/2018), "Ini adalah pemulihan dolar AS yang didasarkan data AS terhadap negara-negara lain yang menangkap banyak kejutan dan menyebabkan gejolak di pasar negara berkembang," ujar Greg McKenna, Kepala Riset CFD

Sementara itu, penguatan dolar AS juga berdampak terhadap sejumlah komoditas. Harga emas turun dalam tiga minggu berturut-turut. Harga emasberada di posisi USD 1.114,79 per ounce.

Harga minyak pun mendekati level tertinggi dalam tiga tahun. Ini karena pasokan global tetap ketat dan pasar menunggu kabardari Washington mengenai kemungkinan sanksi baru AS terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump telah menetapkan tenggat waktu pada 12 Mei bagi Eropa untuk perbaiki kesepakatan dengan Iran atas program nuklirnya. Atau dia akan menolak memperpanjang sanksi bagi Iran.

Harga minyak mentah Brent berjangka naik 11 sen menjadi USD 74,98 per barel. Sedangkan harga minyak mentah AS naik sembilan sen menjadi USD 69,81 per barel.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...