Bagaimana Mengajarkan Anak Untuk Menjadi Prbadi Yang Disiplin

Oky
Oky

Bagaimana Mengajarkan Anak Untuk Menjadi Prbadi Yang Disiplin

Winnetnews.com - Indonesia termasuk kedalam negara yang mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi, khususnya kekerasan terhadap anak. Bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya adalah: kekerasan fisik, kekerasan emosi, dan pengabaian anak. Berdasarkan penelitian yang saya lakukan, Situasi Indonesia untuk saat ini dilaporkan ada 1.000 kasus pada 2016. Sedihnya, dari catatan KPAI mengatakan bahwa 55% hak anak terkait keluarga dan perawatan alternatif dilakukan oleh ibu. Dan berdasarkan laporan "Global Report 2017: Ending Violence in Childhood", sekitar 73,7% anak Indonesia dengan usia 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah.

 

(https://www.liputan6.com/health/read/2494453/dampak-jangka-panjang-sering-memukul-anak)

Kenapa sih hal itu bisa terjadi? Ada seorang ibu yang mengatakan bahwa ia hanya ingin anaknya menjadi disiplin. Ada pula yang mengatakan bahwa ia telah memberitahu anaknya berulang kali dan pada akhirnya ia terpaksa untuk melakukan kekerasan. Dengan alasan yang sama, lagi-lagi untuk mendisiplinkan anak. Sebetulnya tidak hanya itu saja,  Ikrawati, Hj. Suharty Roslan, dan Sarpin yang dikutip dari laporan penelitian yang mereka buat mengatakan bahwa kemiskinan, stress, ketidak pengetahuan (minim ilmu), juga ketidak inginan atas kehadiran anak juga menjadi alasan mengapa ibu - orang tua diluar sana melakukan kekerasan terhadap anak.

Sebenarnya salah atau tidak sih menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan anak atau sebagai pelampiasan emosi? Seorang psikolog untuk anak dan remaja yang telah saya wawancarai, ibu Roslina Verauli mengatakan hal itu tidak dibenarkan sama sekali. Mengapa? Beliau berpendapat bahwa dengan melakukan kekerasan kepada anak apapun alasannya dapat itu salah dan dapat merusak psikologis seorang anak. Anak itu jadi murung, tidak ceria, minder, depresi, agresif kepada teman, dsb. Anak yang mengalami kekerasan pun dapat berpotensi untuk melakukannya nanti di masa depan kepada suami/istri, anaknya sehingga “circle” ini masih akan terus berlanjut

 

(http://www.beritahati.com/berita/19553/Saat%2BBinatang%2BPeliharaan%2BMati%2BAnak%2BMurung%2BKenapa%2B)

 

Lalu, bagaimana sih cara “mendidik”, “mendisiplinkan anak” yang baik dan benar? 

  1. Mengajarkan kepada mereka akan hal konsekuensi

    Kita sebagai orang tua harus bisa memberi sebuah konsekuensi sambil menjelaskannya secara perlahan apa itu konsekuensi. Memang hal itu tidaklah mudah dan instan, melainkan harus dilakukan secara konsisten dan sabar. Sebagai contoh: jika kita gaduh berbuat berisik dikelas kita harus siap akan konsekuensi yang ada. Baik itu disuruh berdiri didepan kelas atau belajar sendiri di perpustakaan sekolah.
  2. Jangan menggunakan nada suara tinggi dan mengancamnya

    Karena dengan begitu anak akan semakin enggan untuk menaati dan berpotensi untuk mendorong anak semakin berbuat kesalahan.
  3. Berikan mereka waktu

    Berilah anak sedikit waktu untuk berfikir, untuk menyampaikan segala keluh kesah yang ada pada dirinya. Dengan melakukan hal ini, anak akan merasa bahwa dia “dilibatkan” dalam pengambilan suatu keputusan. Sehingga nantinya dia akan patuh dan disiplin kepada kedua orang tuanya.
  4. Mulailah sedari anak masih diumur belia

    Jangan tunggu untuk menerapkan hal ini saat ia sudah berinjak remaja karena biasanya anak remaja sudah susah untuk dikasih tau. Digalakin malah makin galak, dibilangin sukanya ngeyel.
  5. Pengoreksian perilaku

    Memberi tahu kepada anak dengan cara baik-baik bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, dan harus siap menerima konsekuensi yang ada. Dengan begitu nantinya anak akan berfikir dan belajar untuk mendisiplinkan diri.
  6. Memberikan contoh yang baik kepada anak

    Sebuah statement yang telah saya kutip dari akun parenting ( @mamalyfe.id) mengatakan “ingatlah apa yang kamu lakukan sekarang, karena itu bisa saja terjadi padamu disaat kamu sudah tua nanti. Selalu ingat bahwa kamu sedang memberikan kepada anakmu sekarang.” jadi jangan kaget kalau sekarang kita sebagai orang tua yang suka menyueki anak, memarahi anak dan nantinya anak melakukan hal tsb ke kita. Karena kita saja sudah memberi contoh yang tidak baik. Maka, anakpun akan melakukan hal yang sama.

Keenam point diatas sangatlah penting untuk dipahami dan tidak ketinggalan untuk jangan lupa memberikan pujian kepada anak jika mereka mampu mematuhi semua peraturan yang telah dibuat bersama.

Selain itu, para orang tua juga harus tetap up-to-date akan perkembangan zaman di era sekarang. Karena perbedaan zaman juga dapat berpengaruh dalam bagaimana caranya mendidik anak. Tapi tak usah risau, karena sekarang sudah banyak website, akun sosial media tentang parenting yang bisa diikuti.

 

 

Ditulis oleh Alviesta Quranxinza Ranandya

Mahasiswi STIKOM LSPR-Jakarta

Apa Reaksi Kamu?