Bagaimana Muda-mudi Swedia Mampu Sewa Apartemen dan Tinggal Sendiri sejak Usia 19 Tahun?
Papercity Magazine/Shutterstock

Bagaimana Muda-mudi Swedia Mampu Sewa Apartemen dan Tinggal Sendiri sejak Usia 19 Tahun?

Sabtu, 28 Sep 2019 | 16:59 | Sofia Citradewi

Winnetnews.com - Anak-anak muda di Swedia lebih memilih tinggal pisah dengan orang tua mereka sesegera mungkin. Menurut statistik, mereka meninggalkan rumah orang tua mereka pada usia yang lebih muda dibandingkan muda-mudi negara Eropa lainnya. Apakah kebiasaan itu berdampak buruk bagi Swedia?

Menjadi mandiri dan tidak menjadi beban orang tua semuda mungkin merupakan hal yang diidam-idamkan siapa pun. Ini yang juga yang jadi prinsip hidup kebanyakan remaja di Swedia. Namun impian semacam itu lebih sulit diwujudkan alias harus tertunda sedikit lebih lama bagi para milenial dan generasi Z di sebagian dunia Barat lainnya.

Mengutip BBC Indonesia, menurut data sensus terbaru Pew Research Center, saat ini semakin banyak anak muda di Amerika Serikat yang masih tinggal bersama orang tua mereka dibanding kapan pun sejak tahun 1940. Menurut penelitian tahun 2019 yang dilakukan lembaga kajian Inggris, Civitas, proporsi warga Inggris berusia 23 tahun yang tinggal bersama orang tua mereka meningkat dari 37% pada tahun 1998 menjadi 49% sepuluh tahun kemudian.

Namun berbeda dengan anak muda Swedia, mereka umumnya meninggalkan rumah mereka pada usia 18 atau 19 tahun; angka yang jauh lebih muda dibandingkan rata-rata di Uni Eropa, yaitu 26 tahun, berdasarkan data Eurostat.

“Saya selalu ingin pindah dari rumah dan selalu merasa siap untuk melakukannya,” kata Ida Staberg, yang telah mampu menyewa apartemen selama dua tahun di Vällingby, dari gaji pekerjaannya di sebuah perusahaan jasa pengamanan, sejak masih 19 tahun.

image0
Ida Staberg

Apartemen yang disewanya adalah tipe studio dengan dekorasi minimalis berukuran 30 meter persegi, dengan uang sewa sekitar 850 dolar Amerika (Rp12 juta) per bulan.

“Bahwa saya bisa jaga diri dan berhak mangatur hidup saya sendiri, tanpa diutak-atik keluarga, adik atau rencana mereka adalah keuntungan utamanya,” ujar Ida.

Norma ‘pindah dan tinggal sendirian sedari muda’ adalah kultur yang rupanya masih dipertahankan anak muda Swedia. Meski kenyataannya, untuk menyewa tempat tinggal dan kontrakan yang semakin mahal, mereka harus melalui antrean panjang. Menurut Badan Statistik Swedia, proporsi jumlah anak muda yang tinggal sendirian belum berubah signifikan sejak tahun 2011.

“Di belahan Eropa yang lain, hidup bergantung kepada keluarga Anda bukanlah suatu masalah, dan di Eropa Selatan, hal itu justru menjadi suatu impian – jika tidak, rasanya seakan-akan Anda menolak keluarga Anda sendiri,” ungkap dosen demografi di Universitas Stockholm, Gunnar Anderson kepada BBC.

image1
Angka resmi menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima orang Swedia yang berusia 18 hingga 25 tahun tinggal di rumah sendirian, meskipun jumlah sebenarnya bisa lebih tinggi (Foto: Alamy via BBC)

“Di Swedia... hidup independen lah yang menjadi cita-cita penduduknya... justru akan dianggap ada yang salah kalau seorang anak tetap tinggal di rumah bersama orang tua,” lanjutnya.

Apakah yang membuat langgengnya norma ini?

Sistem kesejahteraan rakyat

Andersson menjelaskan, ‘budaya individualis’ Swedia sebenarnya sudah ada sejak berabad-abad lalu, di mana para remaja di desa-desa terpencil biasanya pergi dari rumah orang tua mereka untuk bekerja di perkebunan orang lain.

Hingga saat ini, norma yang sama masih tetap relevan berkat sistem kesejahteraan rakyat (welfare state), kuat berlaku di Swedia. Welfare state dalam teorinya, membuat penduduk Swedia mampu mendapatkan tempat tinggal dengan ­range harga terjangkau, asuransi kesehatan, serta pendidikan, tanpa bergantung pada bantuan saudara maupun pasangan.

Selain itu, Andersson mengatakan bahwa ketersediaan akomodasi di pinggiran maupun pusat-pusat kota, yang sebagian besarnya berupa apartemen kecil, “membantu langgengnya” norma ini.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...