Bagaimana Seharusnya Media Memberitakan Virus Corona
Foto: Tempo.co

Bagaimana Seharusnya Media Memberitakan Virus Corona

Rabu, 4 Mar 2020 | 16:58 | Anggara Putera Utama

Winnetnews.com - Media punya andil yang besar dalam persebaran informasi mengenai virus corona. Sebagai penghubung informasi antara pemerintah dan masyarakat, media memiliki dampak yang signifikan terkait bagaimana masyarakat secara umum merespons wabah corona. Dalam kasus yang belum lama muncul, media juga seharusnya memiliki pilihan untuk tidak turut menyebarluaskan privasi pasien corona yang saat ini tengah dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara.

Terkait ini, Kemenkominfo melalui Plt Kepala Biro Humas Ferdinandus Setu, sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia, mengatakan informasi pribadi dikecualikan dalam Pasal 17 huruf h dan i UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Informasi pribadi dikecualikan bila terkait dengan riwayat, kondisi anggota keluarga, perawatan kesehatan fisik dan psikis seseorang.

Pengungkapan identitas penderita corona secara terbuka menurut Ferdinandus ialah pelanggaran hak pribadi. Informasi yang bersifat pribadi tersebut hanya bisa diungkap bila mendapat izin dari yang bersangkutan. Ia juga menambahkan terkait riwayat kesehatan seseorang, itu memang sebaiknya dan seharusnya tidak disebarkan melalui media apa pun.

Tak hanya urusan privasi pasien, dalam konteks wabah yang tengah meluas, media juga memiliki peran untuk menjaga situasi tetap kondusif. Tidak sedikit laporan yang semula berniat memberikan informasi justru berubah menjadi menyebarkan ketakutan dan kekhawatiran. 

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dikutip dari Tirto.id, melalui siaran persnya juga mengimbau para pemimpin dan pemilik media di Indonesia untuk mengedepankan kode etik jurnalistik dalam proses pemberitaan. Selain itu, Ketua AMSI Wenseslaus Manggut, juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama tidak menyebarkan berita bohong (hoaks) dengan membaca berita dari sumber terpercaya, serta terus tumbuhkan semangat optimisme karena sudah puluhan ribu orang sembuh total dari virus ini

Penunjang Ketakutan

Karin Wahl-Jorgensen, Profesor dan Direktur Pengembangan Penelitian dan Lingkungan, Sekolah Jurnalisme, Universitas Cardiff dalam hasil risetnya mengenai emosi dalam pelaporan berita, termasuk peliputan dalam kondisi bencana dan krisis yang ditulis di The Conversation, liputan media memainkan peran penting dalam mengatur emosi publik, termasuk ketakutan.

Umumnya, ketakutan memang dirasakan secara individu, namun dalam konteks pemberitaan, ketakutan juga bisa berupa emosi yang sifatnya massal dan bersirkulasi melalui berbagai kelompok masyarakat hingga membentuk reaksi terhadap peristiwa yang sedang berlangsung. Karin juga mengutarakan, sebagaimana emosi lain, rasa takut juga dapat menular dan menyebar dengan cepat.

Liputan media juga menentukan perdebatan dan perbincangan di masyarakat, termasuk mengarahkan persepsi publik terkait isu tertentu. Dengan itu, berita secara tidak langsung menentukan masalah apa yang patut kita perhatikan. Penelitian menunjukkan bahwa ketika isu tertentu menerima liputan secara luas dan menonjol dalam pemberitaan, isu tersebut akan dianggap lebih penting oleh masyarakat. 

Virus corona saat ini jauh lebih menonjol dalam liputan media dibandingkan epidemi sebelumnya, termasuk ebola. Sebagai contoh, studi Time Magazine menunjukkan bahwa pada bulan pertamanya mewabah, ada 23 kali lebih banyak artikel dalam media cetak berbahasa Inggris yang memberitakan wabah virus corona dibandingkan dengan periode waktu yang sama untuk epidemi Ebola pada tahun 2018.

Karin Wahl-Jorgensen dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa ketakutan telah memainkan peran yang sangat vital dalam pemberitaan wabah corona. Sejak laporan pertama mulai beredar pada 12 Januari, dan hingga 13 Februari 2020, ia mengumpulkan berbagai pemberitaan di surat kabar berbahasa Inggris di seluruh dunia, menggunakan basis data LexisNexis UK. Ini termasuk hampir 100 surat kabar dengan jumlah peredaran yang tinggi dari seluruh dunia, yang jika dijumlahkan menerbitkan 9.387 berita tentang wabah corona. Dari jumlah tersebut, 1.066 artikel menyebutkan "takut" atau kata-kata yang terkait.

Penelitian tentang cakupan wabah penyakit sebelumnya juga menunjukkan penekanan pada hal yang sama, yakni rasa takut. Dalam kasus epidemi SARS pada tahun 2003, sebuah studi oleh sejarawan Patrick Wallis dan ahli bahasa Brigitte Nerlich mengungkapkan bahwa persepsi yang diciptakan media ialah SARS adalah virus pembunuh.

Ketakutan yang menonjol sebagai tema dalam media melaporkan coronavirus ini menunjukkan bahwa pemberitaan wabah lebih memberikan ketakutan pada publik ketimbang informasi yang sebenarnya terjadi mengenai penyebaran virus itu sendiri. 


 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...