Bahrum Naim sang Peretas Piawai di Balik Teror Jakarta

Bahrum Naim sang Peretas Piawai di Balik Teror Jakarta

Jumat, 15 Jan 2016 | 13:12 | Rusmanto
WinNetNews.com - Berbekal ilmu komputer yang ia dapatkan dari bangku kuliah, dilanjutkan dengan profesinya sebagai teknisi komputer di sebuah warung internet, Bahrun Naim --orang yang diduga sebagai dalang aksi teror di Jakarta-- diakui piawai sebagai peretas.

Nama Bahrun Naim disebut oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian. Dia disebut sebagai sosok di balik serangan teror Jakarta, kemarin. Dia juga, kata Tito, yang mengancam akan menggelar "konser" akhir tahun. Bahrun disebut terkait jaringan teroris di Jawa Tengah, dan memiliki pengaruh di Jawa dan Sulawesi.

Markas Besar Kepolisian RI menyatakan Bahrun Naim sebagai pentolan ISIS. "Dia petinggi ISIS yang pernah memberikan warning (kepada Indonesia)," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan.

Soal kepiawaian Bahrun Naim sebagai peretas terlontar dari mulut pengamat terorisme yang juga mantan aktivis Islam, Muhammad Jibriel, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com Jibriel mengaku mengenal baik sosok Bahrun. Perkenalan antara mereka terjalin delapan tahun lalu.

 

“Ia sangat menguasai hal yang berbau cyber, terutama peretasan,” kata Jibriel.

Jauh sebelum Bahrun Naim bergabung dengan ISIS, Jibriel tahu bahwa Bahrun adalah pemuda yang loyal kepada sosok Imam Samudra --pelaku teror bom di Bali. “Namun setelah Imam Samudra tak ada, saya tak tahu lagi Bahrun seperti apa,” kata dia.

Berdasarkan data yang dihimpun, Bahrun Naim memang tercatat dalam rekaman kepolisian sebagai sosok yang akrab dengan ilmu komputer. Lelaki kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 6 September 1983, ini berniat menjadi pemimpin ISIS Asia Tenggara dengan kemampuan teknik informatika dari Universitas Negeri Sebelas Maret.

Baca juga: Bahrun Pemain Baru Teroris

Pola komunikasi Bahrun mencirikan sosok yang akrab dengan teknologi. Hal itu didapat dari sumber CNNIndonesia.com yang bercerita soal adanya hubungan komunikasi terkait rencana teror. Komunikasi itu terpantau pada medio Agustus 2015. Media komunikasi melalui aplikasi telegram. “Intinya sudah ada persiapan,” kata sang sumber.

Kamis siang, rentetan serangan berupa ledakan dan tembakan meletus di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Puluhan orang menjadi korban, dua di antaranya meninggal. Sementara lima orang pelaku tewas di tempat.

disadur dari situs cnn-indonesia

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...