Balita Sering Nonton Program Anak Berbahasa Asing, Bagus atau Tidak Ya?

Balita Sering Nonton Program Anak Berbahasa Asing, Bagus atau Tidak Ya?

WinNetNews.com - Saat ayah dan ibu sibuk di rumah, 'menyodorkan' televisi atau gadget pada balita kadang jadi pilihan. Lagipula anak memang lebih anteng jika sudah berhadapan dengan program televisi anak. Selain itu, diyakini pula jika anak sering-sering menonton program TV berbahasa asing akan membuat anak lebih mudah mempelajari bahasa lainnya.

"Anak baru saja belajar bicara tapi sudah diajari dua bahasa, ini sebenarnya malah bisa bikin anak kesulitan bicara," kata dr Tri Gunadi, A.Md.OT., S.Psi dalam diskusi 'Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak' yang digelar komunitas Tambah ASI Tambah Cinta di RS Meilia, Cibubur, Sabtu (19/12/2015).

Termasuk jika bayi dan balita yang sedang belajar bicara malah dipapar tayangan televisi, meskipun khusus anak, akan membuat anak bingung belajar bicara. Apalagi televisi dan tayangan di internet misalnya, sifatnya satu arah. Tanpa arahan dari orang tua tentu anak terbiasa melihat tanpa berupaya untuk berkata-kata atau berkomunikasi.

"Mengajarkan bahasa lain sebaiknya dilakukan setelah bahasa ibu lancar. Boleh ajarkan red, yellow dan lain-lain kalau semua warna dalam bahasa sendiri sudah bisa. Bisa ajarkan one sampai ten kalau satu sampai sepuluh sudah dikuasai," papar dr Tri.

Kurangnya interaksi dua arah, sambung pria yang juga Direktur Klinik Yamet ini, adalah hal yang sering kali membuat anak mengalami keterlambatan bicara. Untuk diketahui, di usia 18 bulan, setidaknya anak sudah bisa berkata 10-15 kata. Sedangkan di usia 24 bulan, anak sudah bisa menyebut enam anggota tubuh dan menjawab kalimat dengan dua kata.

"Kalau sudah terlambat lebih dari enam bulan sebaiknya dibawa ke tempat terapi tumbuh kembang," saran dr Tri.