Bank Dunia: Biaya Logistik RI Mahal

Bank Dunia: Biaya Logistik RI Mahal

Jumat, 19 Agt 2016 | 08:34 | Rusmanto
WinNetNews.com - Bank Dunia menilai, kondisi logistik Indonesia di era Joko Widodo masih jeblok. Alhasil, daya saing manufaktur nasional sulit naik kelas.

"Sektor manufaktur global saat ini membutuhkan pengiriman logistik yang efisien dan dapat diandalkan. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa kineja ekspor memerlukan logistik yang baik," kata Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop di Kantor Bank Dunia, Jakarta, Kamis (18/8/2016).

Menurut data yang dipaparkan Ndiame, biaya logisttik di Indonesia menyedot rata-rata 25% penjualan produk manufaktur. Angka 25% ini sangat tinggi bila dibandingkan negara-negara Asean. Di Thailand 15%, sementara Malaysia dan Vietnam hanya 13%.

Mahalnya biaya logistik sektor manufaktur di Indonesia, kata Ndiame, merefleksikan beberapa hal. Di antaranya, pembatasan perdagangan, prosedur izin yang membatasi, dan kesenjangan dalam infrastruktur. "Hal tersebut memberikan pengaruh yang tidak menguntungkan bagi biaya logistik," kata Ndiame.

Selain itu, Ndiame memandang, pengoperasian pelabuhan masih banyak yang tidak efisien. Selain itu, seringkali terjadi hambatan di pintu masuk sektor logistik yang menimbulkan rontoknya daya saing sektor manufaktur.

Bank Dunia menilai ada beberapa langkah reformasi yang perlu diambil oleh Indonesia untuk meningkatkan efisiensi logistik sekaligus menurunkan biayanya.

Pertama, perlu ada pembenahan pada struktur komando pemerintah dalam pengaturan prioritas investasi sektor manufaktur di pelabuhan dan konektivitasnya ke pedalaman.

Kemudian, Bank Dunia juga menyarankan perlu adanya pengurangan pemeriksaan prapengiriman dengan menerapkan rezim persetujuan impor berbasis risiko.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyasar enam aspek utama dalam membangun sistem logistik nasional, yaitu perbaikan rantai pasok komoditi utama, infrastruktur transportasi logistik, penyediaan pelaku logistik, pengembangan sumber daya manusia, penerapan teknologi, dan harmonisasi regulasi.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...