Bank Indonesia: Ekonomi Indonesia Tumbuh Tidak Seperti yang Diperkirakan

Rusmanto
Rusmanto

Bank Indonesia: Ekonomi Indonesia Tumbuh Tidak Seperti yang Diperkirakan ilustrasi

WinNetNews.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini tidak sekuat perkiraan semula. Alasannya, BI melihat pertumbuhan konsumsi berpotensi lebih rendah yang tercermin pada perlambatan pertumbuhan penjualan ritel.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan BI Dody Budi Waluyo menjelaskan, di Juni tahun ini, penjualan ritel hanya tumbuh 6,7-6,8 persen. Padahal, penjualan ritel di Juni 2016 tumbuh mencapai 7%-8%.

Lebih lanjut Dody menyebut, hal itu dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang terdampak dari kenaikan tarif dasar listrik. Dody juga bilang, hal itu juga dipengaruhi pergeseran pemberian gaji PNS ke-13 yang awalnya diperkirakan di Juni, kemudian diberikan di Juli.

"Itu semua mengarah ke (pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal kedua) lebih rendah dari perkiraan tetapi tidak lebih rendah dari kuartal pertama," kata Dody, Kamis (20/7) malam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal I tahun lalu hanya sebesar 4,93% year on year (YoY).BI masih memproyeksi, ekonomi kuartal kedua tahun ini masih bisa tumbuh 5,1%, dengan proyeksi 5%-5,4% sepanjang 2017.

Dody bilang, persoalan daya beli tersebut masih bisa diatasi oleh kebijakan moneter dan fiskal pemerintah. Dari sisi monter, daya beli akan didorong dengan menjaga inflasi agar berada di level yang rendah.Sementara dari sisi fiskal, daya beli dapat didorong oleh bantuan sosial pemerintah. Selain itu, pemberian gaji PNS di awal bulan ini juga turut mendorong daya beli.

Dia menyebut, tanda-tanda perbaikan konsumsi masyarakat mulai tampak di awal Juli 2017. Hal itu terindikasi dari penjualan sepeda motor yang tumbuh 15%, makanan, pakaian, dan peralatan rumah tangga.BI juga melihat kinerja ekspor tetap tumbuh meskipun lebih rendah dari perkiraan semula. Hal itu terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan volume ekspor produk primer dan manufaktur.

Sebaliknya, investasi tumbuh lebih baik, terutama nonbangunan. Hal itu ditopang investasi yang berkaitan dengan sumberdaya alam, seperti angkuran berat, pertambangan, dan perkebunan.Sementara, investasi bangunan diyakini bank sentral masih cukup baik terkait dengan proyek infrastruktur pemerintah dan sektor konstruksi swasta.

"Kami cukup confidence kuartal kedua ini (investasi) lebih baik dari kuartal pertama, bahkan lebih baik dari perkiraan kami," tambah dia.

Apa Reaksi Kamu?