Bank Sentral Masih Berpotensi Relaksasi Moneter

Muchdi
Muchdi

Bank Sentral Masih Berpotensi Relaksasi Moneter

WinNetNews.com - Ruang pelonggaran moneter oleh bank sentral dinilai masih terbuka untuk memicu geliat ekonomi domestik di tengah perlambatan ekonomi global. Belanja pemerintah juga belum banyak pengaruhnya di kuartal pertama dan kuartal kedua tahun ini

Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) MohammadFaisal mengatakan penurunan kembali suku bunga acuan sangat dimungkinkan dilakukan lagi sebab kondisi ekonomi masih tertatih di awal tahun, terlebih dilihat dari indikator ekspor dan impor.

Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2016 mencapai US$11,30 miliar atau meningkat 7,80% dibanding ekspor Januari 2016. Angka tersebut dibandingkan Februari 2015 menurun 7,18%. Secara volume, ekspor mengalami penurunan sementara nilai ekspor yang naik dibantu oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat.

Terapresiasinya rupiah didorong oleh dana asing yang masuk ke Indonesia. Bank Indonesia mencatatkan dana asing yang masuk ke Indonesia telah mencapai Rp46 triliun dari 1 Januari 2016 sampai 17 Maret 2016. Jumlah tersebut lebih tinggi Rp2 triliun dari periode yang sama tahun lalu. Selain itu, inflasi juga menjadi faktor penentu terbukanya ruang pemangkasan BI rate.

 

Inflasi Maret 2016 yang 0,19% itu tidak lantas menjadi warning besar dan menjadi faktor yang kuat kemudian untuk menahan penurunan BI Rate, katanya, di Jakarta, seperti di kutip dari situs Bisnis, Sabtu (02/4/2016).

Dia menilai sisi fiskal government spending belum banyak pengaruhnya di kuartal pertama dan kuartal kedua tahun ini ke sektor riil. Menurutnya, belanja pemerintah baru akan memberi dampak pada kuartal tiga dan empat tahun ini sehingga kebijakan moneter yang paling banyak membantu paruh pertama 2016.

BI secara berturut-turut telah memangkas suku bunga acuannya hingga 75 basis poin hingga bulan ketiga 2016. Giro Wajib Minimum Primer juga diturunkan 100 basis poin berlaku pada 16 Maret 2016. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diharapkan dapat terdongkrak oleh kebijakan pelonggaran moneter.

Masalahnya memang sudah turun tiga kali, tapi kan sedikit-sedikit di 0,25%. Ternyata di hilirnya, yang kita harapkan kan sebenarnya kredit perbankan komersial ke sektor riil. Itu yang masih belum banyak, ujarnya.

Sumber&Foto: Bisnis, Jakarta

Apa Reaksi Kamu?