Bank Tempuh Upaya Persuasif Atasi NLP

Bank Tempuh Upaya Persuasif Atasi NLP

JAKARTA - Head Consumer Lending CIMB Niaga Tony Tardjo mengatakan, pihaknya selalu melakukan upaya secara ketat saat proses approval customer ketika pengajuan aplikasi. "Kalau terjadi kesulitan pembayaran, kami mencoba mengerti permasalahan customer sebelum memberikan solusi," kata Tony ,Senin (21/9).

Potensi peningkatan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pada kredit pemilikan rumah (KPR) tak serta merta membuat bank memilih solusi restrukturisasi kredit. Beberapa bank masih mengandalkan pendekatan persuasif dalam mengatasi NPL KPR.

Tony bilang, salah satu solusi bagi nasabah yang mulai kesulitan membayar adalah restrukturisasi. Solusi ini sangat diutamakan sebelum jalan akhir berupa penyitaan jaminan. Namun, Tony menambahkan, saat ini CIMB Niaga belum banyak melakukan restrukturisasi.

Tony masih optimistis, NPL KPR CIMB Niaga hingga akhir tahun ini bisa ditekan di bawah 2%. "Per Juni tahun ini, NPL KPR kami berada di level 2,3%," kata Tony.

Kondisi serupa terjadi di Bank Central Asia (BCA). Felicia Mathelda Simon, Division Head Consumer BCA mengatakan, supaya KPR tidak menjadi NPL, BCA sudah melakukan upaya preventif sejak awal dengan memberikan kredit berdasarkan prinsip kehati-hatian.

Jika debitur mulai terlambat membayar angsuran, BCA akan mencoba menghubungi dan mengingatkan debitur. "Tapi jika keterlambatan terjadi terus menerus dan ada tunggakan, kami akan mengundang atau mendatangi debitur," jelas Felicia.

Tim BCA akan menggali informasi permasalahan yang dihadapi debitur serta rencana cicilan kredit ke depan. Penjualan aset menjadi jalan paling akhir. "Sebelum melakukan penjualan aset, kami tawarkan restrukturisasi," imbuh Felicia.

Meski NPL KPR BCA masih cukup terjaga, Felicia mengatakan, pihaknya terus melakukan monitoring. Per Juni 2015, NPL KPR BCA hanya sebesar 0,5%.

Sementara itu, Maryono, Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) menyatakan, pihaknya lebih konsentrasi menagih dan menjual aset untuk mengatasi NPL. "Restrukturisasi ada, tapi tidak besar," kata Maryono.