Begini Perjalanan Kasus Ahok Yang Dibacakan Hakim
Foto: Merdekacom

Begini Perjalanan Kasus Ahok Yang Dibacakan Hakim

Selasa, 9 Mei 2017 | 10:29 | Gunawan Wibisono

WinNetNews.com - Sebelum memutuskan vonis untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Majelis hakim membacakan fakta-fakta hukum atas dakwaan penodaan agama yang diduga dilakukan Ahok. Secara rinci, majelis hakim mengurai perjalanan politik Ahok terkait dengan penyebutan surat Al Maidah 51.

Pertama, hakim memaparkan kunjungan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Saat itu, Ahok menyebut surat Al Maidah ayat 51 dalam sambutann kepada warga.

" Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak-ibu ya. Jadi kalau bapak-ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa ," begitu penggalan pernyataan Ahok yang dibacakan ulang majelis hakim dalam sidang vonis Ahok di auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Ragunan, Jaksel, Selasa (9/5/2017).

Kegiatan Ahok di Kepulauan Seribu menurut majelis hakim diliput dan direkam Dinas Komunikasi Informatika dan Kehumasan (Kominfomas) DKI Jakarta. Publikasi kunjungan Ahok dilakukan Diskominfomas pada 28 September 2016.

"Dengan cara mengunggah rekaman video dengan berdurasi 1 jam 48 menit ke akun YouTube Pemprov sehingga dapat diakses masyarakat secara luas," sambung hakim.

Majelis hakim juga memaparkan Pilkada Bangka Belitung yang diikuti Ahok pada tahun 2007. Pada masa kampanye saat itu menurut hakim terdapat banyak anjuran terkait Al Maidah 51 berupa surat maupun tulisan.

Ketiga, Ahok kemudian membuat buku berjudul "Merubah Indonesia" pada tanggal 18 Agustus 2008. Di situ Ahok menuliskan karir politik dan surat Al Maidah yang menurut Ahok disalahgunakan elite politik

"Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum elite karena tidak bisa bersaing dengan visi-misi program. Mereka berusaha berlindung di balik ayat seperti itu," sebut Ahok sebagaimana dibacakan lagi tulisannya oleh hakim

Keempat,majelis hakim menyinggung perkataan Ahok terkait pembangunan masjid yang dilengkapi fasilitas wifi.

"Karena mengingat demo dipimpin gunbernur kafir, terdakwa akan memasang wifi Al Maidah 51 dengan pasword kafir," sebut hakim.

Kelima, pada 21 September 2016, Ahok menurut majelis hakim juga menyebut surat Al Maidah pada saat berada di kantor DPP NasDem.

"Pada pokoknya terdakwa meminta lawan politik untuk tidak menggunakan surat Al Maidah 51 untuk berkompetisi," sebut majelis hakim.

Ahok dituntut 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Jaksa menyebut Ahok terbukti melakukan tindak pidana yang ancaman pidananya diatur dalam Pasal 156 KUHP. Ahok dituntut atas pidana menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia.

Dilansir dari Detikcom

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...