Beginilah Kronologi Tragedi 12 Mei Trisakti

Beginilah Kronologi Tragedi 12 Mei Trisakti

WinNetNews.com - Awal mula kejadian Tragedi berdarah pada 12 Mei 1998 adalah krisis ekonomi yang mulai goyah. Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri dan militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Tragedi ini berawal ketika para mahasiswa Trisakti berunjuk rasa menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Saat itu, mahasiswa Trisaksti berdemo di dalam kampus dan berencana bergerak menuju Gedung DPR-MPR.

Akhirnya, pada pukul 17.15 WIB, para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan ke RS Sumber Waras.

Pasalnya, dalam peristiwa tersebut belasan orang terluka dan empat mahasiswa Trisakti tewas dalam aksi unjuk rasa yang mayoritas dipelopori oleh kalangan intelektual untuk menumbangkan rezim orde baru.

Tepat pada hari Kamis (12/5/2016), 18 tahun sudah catatan sejarah tersebut terlewatkan. Namun memang belum ada titik cerah dalam mengungkap siapa dalang yang bertanggungjawab atas terjadinya insiden berdarah tersebut.

Menanggapi isu politik atas krisis global yang membawa Indonesia ke dalam pergulatan tersebut juga menjadi isu utama yang dibawa oleh mahasiswa Trisakti dalam aksi unjuk rasa yang digelar di depan kampusnya pada Selasa 12 Mei 1998 siang.

Saat ini tragedi berdarah di kampus Trisakti sudah memasuki usia yang ke 18 tahun dan sempat menjadi kecaman dari berbagai pihak atas arogansi aparat berseragam yang bertindak represif terhadap mahasiswa.

Ribuan mahasiswa Trisakti dengan mengenakan almamater kampusnya melakukan aksi turun ke jalan tepat di depan kampus mereka dengan cara memblokir ruas jalan yang melintas depan kampus pada siang hari sekira pukul 11.00 WIB.

Berbagai pekik revolusi serta beberapa tuntutan disuarakan para demonstran tepat di jalan depan Kampus Trisakti dan berlangsung hingga senja tiba. Aksi tersebut sempat mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian juga tentara yang menginginkan agar aksi tersebut tak berlanjut hingga malam hari.

Alhasil, setelah dilakukan negosiasi dengan aparat berseragam pada sore hari, para mahasiswa pun bergerak mundur hingga masuk ke dalam kampus. Namun, tiba-tiba suara tembakan terdengar dari seberang jalan depan Kampus Trisakti.

Suasana pun pecah dan memanas akibat aksi tembakan oleh jajaran aparat berseragam ke arah mahasiswa dengan membabi buta. Serangan balasan pun dilakukan oleh para mahasiswa dengan memakai alat seadanya seperti batu dan bambu.

"Pas lagi jalan mundur ke gerbang jarak 5 sampai 10 menit ditembakin oleh mereka yang berseragam, kondisi kacau balau. Mahasiswa balas lempar batu, ditembakin membabi buta, rusuh sekitar 20 menit," ujar Haris Azhar salah seorang mahasiswa Trisakti yang ada di lokasi kejadian pada saat itu.

Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) tersebut juga menceritakan setelah hampir 15 menit terjadi serangan tembakan dari jajaran aparat berseragam, para korban pun mulai terlihat berjatuhan.

"15 menit kemudian dapat kabar ada yang ketembak, yang luka banyak, yang meninggal empat, sampai saat ini para saksi mata juga masih hidup," katanya.

Hingga saat ini korban dari tragedi Trisakti berjumlah empat orang, tiga mahasiswa Trisakti tewas di tempat, sedangkan satu mahasiswa tewas setelah dibawa ke rumah sakit. Dari total empat mahasiswa yang tewas tersebut mereka diketahui bernama Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak di dalam kampusnya usai terkena peluru tajam di bagian kepala, tenggorokan, dan dada.

Sumber Okezone