Belajar Ikhlas dari Ojek Sepeda

Belajar Ikhlas dari Ojek Sepeda

INGATAN Paijin, 57, melayang jauh ke era 1980-an di Terminal Bus Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kala itu dari Pemalang, dia merantau ke Ibu Kota memulai pekerjaan sebagai pengojek sepeda.

Saban hari, Paijin yang tinggal di Warakas 5 Gang VI No 78 mengantarkan penumpang dari terminal ke arah Warakas, Rawabadak, atau Pelabuhan Tanjung Priok. Dulu, ongkos ojek sepeda untuk jarak dekat hanya Rp25. Sepeda menjadi transportasi andalan di area Priok saat itu.

''Ada ribuan sepeda saat itu. Titik kumpulnya di Jalan Bugis, Terminal Priok, Jalan Kebon Bawang Pasar Ular, Plumpang, dan Jembatan Rawabadak,'' cerita Paijin saat ditemui di Jalan Bugis, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, kemarin. Di tengah terik, Paijin tengah mangkal menunggu penumpang bersama dua rekannya, Ridwan, 62, dan Wanto, 58.

Saking banyaknya penumpang, kenang dia, tak kurang dari Rp20 ribu bisa dibawa pulang ke rumah. ''Kalau disesuaikan dengan nilai uang sekarang, ya, sekitar Rp 200 ribu/hari bisa dapat,'' aku ayah tiga anak itu.

Kini semua tinggal kenangan. Paijin dan sesama pengojek sepeda harus menelan pil pahit. Situasi kini sudah tak semanis dulu. Perlahan-lahan, sejak 2005, pengojek sepeda beralih profesi akibat makin sepinya penumpang. Sejak itu, Paijin pun beralih mangkal dari Terminal Priok ke Jalan Bugis Kebon Bawang hingga saat ini.

''Sejak itu benar-benar sudah menyusut. Ojek motor sudah mulai ramai terus langganan kita-kita sudah punya motor sendiri, jadi otomatis tarikan kita sepi,'' ucap Paijin.

Kini, di Jalan Bugis Kebon Bawang, ia hanya mangkal bersama tiga rekan ojek sepeda lainnya. Berbeda dengan situasi dulu saat jejeran sepeda yang mangkal bisa sepanjang 100 meter. Penghasilan mereka pun tidak sebanyak dulu lagi. ''Dapat Rp40 ribu satu hari saja sekarang sudah syukur banget. Kalau Sabtu-Minggu, ya, lebih sepi lagi, betul-betul pas untuk makan,'' ucap Wanto, rekan Paijin yang duduk di sebelahnya.

Kondisi demikian tak membuat Paijin mundur sebagai tukang ojek sepeda. Baginya, rezeki sudah diatur Tuhan. Apalagi ketiga anaknya sudah lulus sekolah tingkat SMA. Kenyamanan Paijin sebagai tukang ojek sepeda yang sudah ditekuninya selama kurang lebih 30 tahun tidak bisa dibayar hanya dengan jumlah rupiah yang bisa ia dapat. ''Sekarang sudah nyaman, anak-anak sudah bekerja. Kalau bicara uang memang tidak masuk akal, tapi namanya rezeki, ya, ada saja. Itu sudah diatur Tuhan,'' kata dia.

Itu pulalah yang membuat dia tak ingin beralih profesi menjadi tukang ojek sepeda motor, misalnya. Kalau sepeda tidak memikirkan uang bensin. Bagi Paijin, asal perut terisi itu sudah cukup. Kalau sepeda rusak pun tak seribet motor rusak. ''Itu saja rumusnya. Kita bertahan tentu ada jurusnya. Modal ikhlas dan tekun saja. Penumpang juga kini tahu menghargai kita. Bisa dia kasih lebih,'' sambung Paijin.

Paijin sendiri tidak bisa memperkirakan entah sampai kapan ojek sepeda bertahan.