Benarkah Hepatitis Bisa Menular?

Benarkah Hepatitis Bisa Menular?

WinNetNews.com - Hari Hepatitis Sedunia yang jatuh pada 28 Juli kemarin dijadikan oleh masyarakat untuk lebih mengenali cara penularan hepatitis, dan pencegahannya.

Winners harus tahu, Hepatitis sering disebut juga sakit kuning atau sakit liver, yang merupakan penyakit menular dengan cara kerja menginfeksi sel hati. Hepatitis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, B, C, D, dan E.

Di masyarakat sendiri, virus Hepatitis A, B, dan C adalah tiga jenis virus yang paling sering ditemukan. Berikut penjelasan menngenai penyakit hepatitis dan bagaimana cara penularannya:

Hepatitis A

Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A. Virus ini ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh kotoran mengandung virus hepatitis A. Selain itu, pengidap hepatitis A yang memasak dan menyajikan makanan juga dapat menularkan virus ini kepada orang yang mengonsumsi makanan tersebut.

Penyakit ini banyak menular, terutama di lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik, kekurangan air bersih, dan higiene perorangan yang kurang. Cara membersihkan, memasak, menyiapkan makanan, serta cuci tangan sangat penting untuk memutus rantai penularan virus ini.

 

Hepatitis B dan C

Hepatitis B dan C ditularkan dengan cara yang sama, yaitu melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air liur. Cara penularan kedua virus ini adalah melalui hubungan seksual, transfusi, berciuman, bergantian menggunakan jarum suntik untuk narkoba, dan penggunaan pisau cukur bergantian dengan pengidap hepatitis.

Bahkan, ada pula kecurigaan penularan hepatitis B dan C melalui jarum tato, alat facial, manikur, serta pedikur yang tidak steril. Selain cara-cara tersebut, hepatitis B dan C juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya saat melahirkan melalui jalan lahir.

Virus hepatitis B sangat mudah menular. Untuk melindungi diri dari penyakit tersebut, Anda memerlukan vaksinasi hepatitis B.

WHO (World Health Organization) merekomendasikan semua bayi yang baru lahir untuk segera divaksinasi hepatitis B – setidaknya dalam 24 jam pertama kehidupannya. Selanjutnya, dua dosis vaksin hepatitis B harus diberikan kepada bayi untuk mendapatkan perlindungan yang optimal.

Vaksin yang telah lengkap dilakukan dapat melindungi individu dari penyakit hepatitis B sebesar 95%. Proteksi tersebut disinyalir bertahan hingga 20 tahun. Setelah kurun waktu tersebut, WHO merekomendasikan agar mereka memeriksakan kembali kekuatan antibodi hepatitis B. Jika antibodi telah “habis”, individu tersebut perlu mendapatkan tambahan booster vaksin hepatitis B untuk kembali mendapatkan kekebalan tubuh.

Berbeda dengan hepatitis B, hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk melindungi dari penyakit hepatitis C. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah adalah berusaha menghindari paparan virus tersebut. Beberapa caranya adalah dengan menggunakan kondom ketika berhubungan seksual, menghindari hubungan seksual berganti-ganti pasangan, melakukan pengecekan ulang terhadap darah transfusi, menghindari penggunaan narkoba suntik, serta menggunakan alat manikur pedikur milik sendiri.

Apabila Anda ingin melakukan facial atau menggoreskan tato pada tubuh Anda, pastikan Anda melakukannya di tempat yang terpercaya dan higienis.