Benarkah Kelelawar dan Ular Menjadi Sumber Munculnya Virus Corona?
Sup kelelawar yang sering disantap orang Cina (foto: Daily Mail)

Benarkah Kelelawar dan Ular Menjadi Sumber Munculnya Virus Corona?

Sabtu, 25 Jan 2020 | 22:47 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Berbarengan dengan munculnya wabah Corona, di media sosial kemudian muncul video orang-orang menyantap sup kelelawar. Banyak yang kemudian menduga bahwa sup kelelawar inilah yang kemudian menyebabkan munculnya virus Corona.

Melansir Detik Health, dokter spesialis penyakit dalam dr. Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD dari Rumah Sakit Omni Pulomas menjelaskan anggapan tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. Belum ada keterangan jelas mengenai asal-muasal virus ini. Beberapa peneliti di seluruh dunia saat ini masih bekerjasama untuk mengidentifikasi virus ini lebih lanjut. Beberapa studi bahkan menyebut jika virus ini tidak berasal dari kelewar, melainkan ular.

Menurut Peneliti Biologi Llembaga Ilmu Ppengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra, kandungan dalam daging kelelawar dan ular sebenarnya didominasi oleh protein. Kendati demikian, ketika manusia mengonsumsi daging keduanya, potensi daging tersebut membawa penyakit pun tinggi karena keduanya adalah hewan liat.

image0
Sup kelelawar yang diduga menjadi penyebab virus Corona (foto: Elite Readers)

“Kandungan dominan mungkin protein. Bahayanya karena kedua jenis hewan tersebut merupakan hewan liar yang bisa membawa potensi penyakit berbahaya. Kita tidak tahu mereka ada dimana, mangsanya apa saja,” jelas Sugiyono, dilansir dari CNN Indonesia, Sabtu (25/01).

Lebih lanjut, Sugiyono pun mengkomparasikan kasus Corona dengan wabah Severe Acute Respiratory System (SARS) yang beken pada 2002-2003 lalu. Pada saat itu, hewan perantaranya adalah musang dan rakun. Untuk penyakit MERS, Sugiyono menjelaskan bahwa unta adalah hewan perantaranya.

"Sedangkan pada kasus terbaru, material genetik dari 2019-nCoV merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular," kata Sugiyono, dilansir dari Tempo, Sabtu (25/01).

Menurut Sugiyanto, masih diperlukan penelitian menyeluruh untuk menyimpulkan asal virus 2019-nCoV. Caranya, identifikasi di tempat kerja dan laboratorium lebih lanjut. Meski begitu, dia menambahkan, para ilmuwan menduga bahwa mamalia adalah kandidat yang paling mungkin, karena telah tervalidasi pada kasus SARS dan MERS sebelumnya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...