Benarkah Presiden Jokowi Selamatkan Indonesia dari 'Politik Terselubung' di Pertemuan San Fransisco

Benarkah Presiden Jokowi Selamatkan Indonesia dari 'Politik Terselubung' di Pertemuan San Fransisco

WinNetNews.com - Kunjungan keerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dipercepat dari rencana yang telah ditentukan sebelumnya.Hanya sehari setelah tiba di Pangkalan Udara Andrews di Washington DC, Presiden Jokowi memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Pantai Barat atau West Coast, Amerika Serikat, di mana Silicon Valley atau Lembah Silikon di San Francisco Bay Area, California, berada.

Diketahui bahwa di Lembah Silikon ini merupakan markas dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor serta menjadi pemimpin utama industri IT global, seperti Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel, dan Yahoo. Dijadwalkan Presiden Jokowi akan bertemu dengan para CEO perusahaan IT yang berada di Lembah Silikon tersebut, namun rencana tersebut pun batal.

Kabar pembatalan perjalanan Presiden ke San Fransisco untuk bertemu dengan para CEO perusahaan IT terkemuka tersebut rupanya telah santer berhembus di kalangan media. Benar saja, keesokan harinya Presiden Jokowi mengumumkan sendiri pembatalan kunjungannya ke Lembah Silikon.

Saat itu wartawan media dikumpulkan dan diperlihatkan rekaman pembicaraan telepon antara Presiden dengan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Panjaitan. Percakapan tersebut membicarakan tentang penanganan kebakaran hutan dan kabut asap.

"Yang terakhir saya akan batalkan perjalanan ke West Coast, San Fransisco, karena banyak keluhan di masyarakat. Saya akan balik langsung menuju Palangkaraya atau Sumsel Palembang," kata Presiden dalam percakapan tersebut.

Setelah percakapan selesai sang presiden pun memberikan keterangan resmi kepada awak media, bahwa perjalanan Beliau ke San Fransisco untuk bertemu dengan para CEO perusahaan IT ternama dibatalkan lantaran bencana kabut asap di Tanah Air.

 

Namun, timbul desas desus di balik batalnya perjalanan Presiden tersebut yang mengindikasikan bahwa faktor sebenarnya dari pembatalan kunjungan itu bukan murni karena bencana kabut asap.

Dilansir dari situs kabar 24, beberapa ada yang menyebutkan bahwa Presiden Jokowi kecewa dengan status kunjungannya ke AS yang hanya terbatas pada kunjungan kerja, bukan kunjungan kenegaraan karena slot bagi kunjungan kenegaraan ke AS telah habis tahun ini.

Namun dugaan ini dibantah Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi yang menegaskan sejak awal perjalanan Jokowi ke AS memang kunjungan kerja atau working visit.

Selain itu, muncul juga kabar bahwa pembatalan tersebut adalah upaya Presiden Jokowi untuk menyelamatkan Indonesia dari "Penumpang gelap" yang punya agenda politik terselubung.

Seperti yang dilansir dari laman kabar 24 "Di pertemuan San Fransisco, kita bisa lihat agendanya, ada banyak pihak, ada banyak orang, sehingga ada kemungkinan banyak agenda politik yang kita tidak pernah tahu," kata sang sumber yang merupakan salah satu pengusaha ternama di Indonesia.

 

Ekonomi kreatif dan ekonomi digital dianggapnya hanya pemanis dari agenda yang sebenarnya dari kunjungan ke San Fransisco yang batal itu.

Ketidakhadiran Jokowi dalam berbagai rangkaian acara di Lembah Silikon sebagai basis industri kreatif AS justru dinilai sang sumber akan menyelamatkan Indonesia dari berbagai agenda politis yang tidak terduga. Isu yang tidak pernah terelakkan soal Freeport juga agaknya membuat Jokowi kian risih berlama-lama berada di Negeri Paman Sam.

Meskipun demikian, agenda di San Fransisco akan tetap berjalan sesuai rencana, sebab Presiden Jokowi telah mengutus menteri-menterinya untuk menggantikan kehadiran dirinya di acara tersebut.

Lalu benarkah desas-desus tersebut? Meskipun demikian, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani meyakini perjalanan Jokowi ke AS tetap membuahkan hasil yang nyata. Yakni Total Business Deal (kesepakatan bisnis) yang diumumkan dan ditandatangani bersamaan dengan kunjungan Presiden yang mencapai nilai 20,25 miliar dolar AS. Menurutnya hal ini memberikan harapan yang semakin besar untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat.