Benarkah Sekolah Tatap Muka Membuat Siswa Jadi Stres?
detikcom

Benarkah Sekolah Tatap Muka Membuat Siswa Jadi Stres?

Rabu, 13 Okt 2021 | 10:00 | Rusmanto
Winnetnews.com -  Happy Mental Health Day! Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan Indonesia, tema yang diangkat tahun 2021 adalah Mental Health in an Unequal World atau Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua.

Makna dari tema tersebut adalah mendorong semua negara dalam menyediakan lebih banyak akses untuk melayani masalah mental. Hal ini bertujuan untuk menjaga mental maupun fisik tetap sehat.

Momen ini selalu diperingati setiap tahunnya sejak 1992 untuk memberi edukasi kepada masyarakat seputar isu kesehatan mental. Pada peringatan tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa pandemi COVID-19 sangat berdampak terhadap masalah mental.

Masalah mental ini juga dirasakan langsung oleh anak-anak dan remaja. Dokter spesialis ilmu kesehatan jiwa di Rumah Sakit Universitas Indonesia, dr Fransiska Kaligis, SpKJ (K), mengatakan bahwa penutupan sekolah dan karantina mandiri dapat meningkatkan risiko kecemasan dan kesepian. Akibatnya dapat mengganggu pola kesehariannya.

Selain itu, mulai dibukanya pembelajaran tatap muka ini juga menyebabkan beberapa remaja mengalami stres, kesepian, cemas, atau masih berduka karena kehilangan anggota keluarganya akibat COVID-19.

"Untuk itu memang peran guru dan staf di sekolah penting dalam proses transisi dari kegiatan belajar virtual ke tatap muka," ungkap dr Fransiska dalam webinar, pada Selasa (12/10/2021).

Menurutnya, kesehatan mental harus dipahami karena berperan penting untuk proses belajar. Ia menyebut peran sekolah harus bersifat terbuka dengan memberikan kesempatan kepada orang tua atau anak untuk berkomunikasi.

"Misal mengadakan pertemuan virtual dengan orang tua untuk bisa meningkatkan pemahaman orang tua tentang bagaimana program belajar mengajar. Sehingga anak sudah bisa menyesuaikan dan orang tua bisa memahami kegiatan belajar di sekolah dan di rumah," katanya.

Dalam hal ini, dr Fransiska memberikan empat macam dukungan sosial dan emosional yang dapat diberikan untuk siswa:

  • Small group, membuat kelompok kecil untuk saling mengobrol saat istirahat.
  • Reflection, membuat kegiatan untuk merefleksikan diri siswa dengan perilaku yang baik
  • Social engagement, membuat kegiatan yang dapat meningkatkan interaksi antarsiswa untuk mengurangi stres. Contohnya pertemuan tatap muka atau virtual.
  • Peer initiatives & intervention, melibatkan siswa dalam membantu temannya yang sedang kesulitan dana interaksi sosial dan akademik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sekolah Tatap Muka Bikin Remaja Cemas-Stres, Jadi Nggak 'Happy'"
 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...