Benua Antartika Malah Penuh Sampah Plastik? Benarkah?
Foto: Life Science

Benua Antartika Malah Penuh Sampah Plastik? Benarkah?

Kamis, 22 Jun 2017 | 14:09 | Fellyanda Suci Agiesta

WinNetNews.com - Benua Antartika memang terkenal dengan bongkahan es yang luas biasa besarnya, para ilmuwan lama percaya bahwa benua tersebut terbebas dari polusi plastik yang menodai seluruh dunia.

Tapi jangan cepat percaya. Nyatanya, puing-puing plastik jauh lebih buruk di Antartika dari yang diperkirakan. Hal itu sudah di survey oleh periset dari University of Hull in England and British Antarctic. Tingkat mikroplastik di wilayah ini lima kali lebih tinggi daripada yang biasanya, seperti stasiun penelitian dan kapal.

"Antartika dianggap sebagai padang gurun yang sangat terisolasi dan murni. Ekosistemnya sangat rapuh," kata Catherine Waller, penulis utama penelitian dan ahli biologi kelautan di University of Hull.

Microplastics adalah partikel yang berukuran lebih kecil dari diameter 5 milimeter yang banyak ditemukan pada barang rumah tangga, termasuk sampo, pasta gigi, dan pakaian poliester. Partikelnya juga dibuat saat puing-puing yang lebih besar seperti botol soda, mainan anak-anak, dan jaring ikan yang rusak.

Penelitian yang diterbitkan minggu ini di jurnal Science of the Total Environment, menunjukkan bahwa sebagian besar puing-puing plastik berasal dari luar Antartika. Di sekitar Samudra Selatan, misalnya, pariwisata, perikanan, dan kegiatan penelitian ilmiah semuanya berkontribusi terhadap polusi plastik.

"Bisa jadi partikel dari plastik ini muncul di padang belantara murni melalui arus Antartika Circumpolar, yang mengalir searah jarum jam di sekitar benua dan secara historis dianggap tidak bisa ditembus," kata periset.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa sampai 1.100 pon mikroplastik dari produk perawatan pribadi dan sampai 25,5 miliar serat pakaian memasuki Samudra Selatan per dekade. Sementara itu sampah plastik yang "diabaikan" saat menyebar di samudra seluas 8,5 juta mil persegi, atau 5,4 persen samudra di dunia, ini merupakan ancaman bagi ekosistem lokal.

"Anjing laut, penguin, dan satwa liar lainnya bisa memakan sampah plastik dan tersedak, atau terjerat. Tiny krill dan zooplankton lainnya juga melahap mikroplastik, mengenalkan bahan kimia berbahaya ke dalam rantai makanan. Namun, masih belum jelas bagaimana makanan plastik itu mempengaruhi hewan laut di Samudera Selatan," kata Claire Waluda, rekan penulis studi dan ahli biologi di British Antarctic Survey.

Periset mengatakan mereka akan terus memantau polusi plastik di wilayah tersebut, bersamaan dengan ancaman lain yang meningkat terhadap ekosistem, termasuk dampak pemanasan global yang didorong oleh manusia.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...