Berbagai Teori Terkait Wabah Novel Coronavirus
ilustrasi

Berbagai Teori Terkait Wabah Novel Coronavirus

Kamis, 13 Feb 2020 | 11:55 | Rusmanto
Winnetnews.com - Novel coronavirus yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok, hingga Selasa (11/2) telah menginfeksi lebih dari 40.000 orang dan mengakibatkan 1.018 orang meninggal dunia. Kendati angka infeksi dan kematian terus meningkat, sejumlah peneliti ternyata telah memprediksi skenario yang mungkin menjadi akhir dari wabah novel coronavirus.

Menurut Amesh Adalja, salah seorang peneliti sekaligus ahli penyakit infeksi di Johns Hopkins’ Center for Health Security, Amerika Serikat, wabah novel coronavirus yang saat ini merebak memiliki berbagai kemungkinan. Berikut teori yang dikemukakan oleh Adalja dan sejumlah peneliti lainnya terkait akhir dari wabah novel coronavirus.

Teori 1: Wabah novel coronavirus tidak berakhir

image0

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Worldometer, laju penularan novel coronavirus termasuk yang paling cepat di antara virus-virus sejenisnya. Sebagai gambaran, satu orang yang terinfeksi novel coronavirus bisa menulari 3 hingga 4 orang yang sehat. 

Bahkan, seorang pasien di rumah sakit di Wuhan dilaporkan telah menyebarkan infeksi ke lebih dari 57 orang. Laju penularan tersebut jauh lebih cepat dibandingkan wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang merebak tahun 2003 serta Middle East Respiratory Syndrome (MERS) tahun 2013.

Menurut Amesh Adalja, wabah novel coronavirus mungkin saja tidak memiliki akhir. Hal ini didasarkan pada sebuah model penyebaran infeksi yang diterbitkan di Jurnal Annals of Internal Medicine tahun ini.

Mengacu pada model tersebut, novel coronavirus diperkirakan akan menginfeksi lebih dari 300.000 orang pada 24 Februari 2020. Virus berkode 2019-nCoV ini kemungkinan besar menjadi pandemi, yakni penyakit yang menyerang seluruh belahan dunia.

Namun, Anda tidak perlu panik. Meski wabah novel coronavirus mungkin tidak memiliki akhir, Adalja juga mengemukakan ‘anak-anak’ dari teori pertamanya ini. Berikut gambarannya:

1. Novel coronavirus tidak pernah hilang, tapi menjadi penyakit musiman

2019-nCoV adalah bagian dari kelompok virus yang disebut coronavirus. Para ilmuwan sejauh ini telah menemukan tujuh tipe coronavirus pada manusia. Beberapa tipe hanya menyebabkan pilek dan flu, tapi ada pula yang memicu masalah pernapasan parah.

Wabah novel coronavirus mungkin tidak memiliki akhir, tapi infeksi ini bisa saja menjadi penyakit musiman seperti halnya pilek dan flu. Virus flu bertahan lebih lama pada suhu dingin. Begitu memasuki musim panas atau kemarau, angka infeksi mungkin menurun karena virus menjadi lebih lemah.

2. Novel coronavirus menjadi penyakit yang ringan

Coronavirus adalah virus yang sangat mudah mengalami mutasi. Selain membuat virus menjadi lebih kuat, mutasi juga bisa melemahkan virus. Mutasi mungkin akan membuat novel coronavirus menjadi lebih lemah sehingga pasien hanya akan mengalami gejala mirip flu.

Walau demikian, kemungkinan ini diragukan oleh Stephen Morse, ahli epidemiologi dari Columbia University, AS. Menurutnya, novel coronavirus bisa saja menjadi virus yang mirip dengan virus penyebab pilek, tapi ini bukan akhir dari wabah dan prosesnya akan memakan waktu lama.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...