Skip to main content

BI: Jangan tambah sentimen negative

BI: Jangan tambah sentimen negative
BI: Jangan tambah sentimen negative

PURWOKERTO. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hendar berharap ada reformasi struktural agar perekonomian Indonesia secara bertahap tidak bergantung pada barang-barang impor, jasa luar negeri, dan pembayaran luar negeri.

Usai serah terima jabatan Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto dari Rahmat Hernowo kepada Ramdan Denny Prakoso di Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (7/9), Hendar mengatakan bahwa pemerintah kemungkinan akan mengambil langkah-langkah dengan mengeluarkan kebijakan yang memberikan sentimen positif guna mendorong investasi di Tanah Air.

"Jadi, lagi-lagi yang saya katakan bahwa dampak dari penguatan dollar AS, bukan hanya terjadi di Indonesia," tegasnya.

Menyinggung soal investor asing, dia mengakui bahwa untuk Indonesia, kepemilikan asing di dalam surat-surat berharga pemerintah cukup besar daripada beberapa negara lain di kawasan.

Ia mencontohkan kepemilikan asing di dalam obligasi pemerintah berdasarkan catatan BI sekitar 37%-38%.

"Artinya, cukup besar dari angka Rp 1.400 triliun. Oleh karena itu, yang perlu dijaga dalam kondisi ini adalah tentu tidak menambah sentimen negatif terhadap perekonomian kita," katanya.

Terkait dengan upaya yang perlu dilakukan agar investor asing tidak meninggalkan Indonesia, Hendar mengatakan bahwa hal itu berupa kebijakan ekonomi Indonesia yang sehat, baik kebijakan moneter, kebijakan fiskal, maupun kebijakan sektor riil lainnya.

"Ini yang paling penting sehingga mereka tetap memilikiconfidence terhadap perekonomian Indonesia. Masalah ini bukan hanya masalah Indonesia, semua negara mengalami yang sama," katanya.

Menurut dia, kebijakan ekonomi Indonesia yang sehat bisa memberi sentimen positif terhadap pasar keuangan Indonesia.

Ia berharap, pada semester kedua 2015, pemerintah bisa merealisasikan proyek-proyek infrastruktur dan mengomunikasikannya dengan baik kepada dunia.

"Kita kan banyak pembangunan-pembangunan yang akan kita lakukan, ini beberapa sentimen positif, tinggal nanti bagaimana kita mengomunikasikan, itu akan lebih baik ke depan," katanya.

Hendar menegaskan, "Saya masih meyakini bahwa kita sudah belajar dari beberapa pengalaman yang lalu. Misalnya, pada tahun 2008, ya, tentu ada eksesnya, tetapi kita termasuk negara dengan pertumbuhan yang tinggi. India, Tiongkok, dan kita, Indonesia."

Menurut dia, peranan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap perekonomian Indonesia masih relatif cukup kuat sehingga dalam kondisi seperti sekarang ini, UMKM bisa mengisi pasar lokal atas barang dan jasa yang selama ini diimpor.

Oleh karena itu, kata dia, program-program penguatan perekonomian domestik ini menjadi sangat penting.

"Saya kira langkah-langkah Bank Indonesia, misalnya untuk bersama-sama dengan instansi terkait dan pemerintah untuk makin menguatkan peran UMKM terus kita lanjutkan," kata Hendar.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top