BI Terapkan QRIS, Bagaimana Nasib Penerbit Uang Elektronik?
Ilustrasi Quick Response (QR) Code. [Foto: sindonews.com]

BI Terapkan QRIS, Bagaimana Nasib Penerbit Uang Elektronik?

Minggu, 12 Jan 2020 | 20:15 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Gong penerapan standardisasi quick response (QR) code telah ditabuh. Mulai awal 1 Januari 2020, semua transaksi pembayaran non tunai lewat QR hanya menggunakan satu device yaitu Quick Response Indonesia Standard (QRIS).

Artinya, pengguna QR seperti Gopay, Ovo, Dana, LinkAja atau penerbit uang elektronik lainnya tidak perlu pusing pilih yang mana, karena QRIS dapat menerima semua device.

Mau tidak mau, penerapan QRIS bakal menyeleksi siapa pemain kuat pada model sistem pembayaran ini. Pasalnya, setiap merchant dapat menerima semua merek uang elektronik tanpa terkecuali.

Saat ini, ada 26 Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang sudah terkoneksi dengan QRIS, sisanya Bank Indonesia (BI) sedang menyeleksi uang elektronik yang dapat masuk ke sistem QRIS.

Direktur Eksekutif Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran BI Pungky P. Wibowo mengatakan, kompetisi ada di tangan pemain. BI tidak mau memihak ke pemain uang elektronik baik perbankan maupun telekomunikasi pada implementasi QRIS ini.

“Nantinya, mereka akan berusaha sendiri untuk menjadi yang terbaik bagi konsumen,” katanya, Sabtu (11/1) seperti dikutip Kontan.co.id.

Ada lima permain besar pada uang elektronik. Sebut saja, ada Ovo, Gopay, Dana, Bank Mandiri, dan Shoope Pay. Akan tetapi, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ricky Satria enggan memberikan komentar tersebut, karena yang terpenting buat BI adalah interoperabilitas.

Kendati demikian, Ricky bilang, implementasi QRIS akan membuka jalan bagi penerbit uang elektronik lainnya yang ingin menikmati kue bisnis uang elektronik. Saat ini, 26 PJSP yang dapat terkoneksi dengan sistem QRIS terdiri dari 9 perusahaan non bank, dan 14 dari industri perbankan.

Siapa saja mereka? Yakni Gopay, Ovo, Dana, LinkAja, ShopeePay, Paytren, Ottocash, BluePay, Telkom. Diikuti perbankan seperti BCA, BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Mega, Bank Permata, Bank Nobu, Bank Sinarmas, Bank Maybank, Bank DKI, BPD Bali dan Bank Syariah Mandiri.

Tahap awal, QRIS baru dapat digunakan dengan model Merchant Presented Model (MPM) yaitu konsumen melakukan scan QR di setiap merchant. Nah, pada model MPM ini, Pungky menargetkan, BI dan PJSP akan ngebut untuk meningkatkan jumlah merchant yang terkoneksi dengan QRIS.

“Targetnya ada 15 juta merchant di tahun ini,” kata Ricky.

Upaya untuk memenuhi target tersebut, BI mendorong PJSP bekerjasama dengan merchant-merchant milik dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Langkah awal, 5% dari 60 juta pelaku UMKM dapat dijadikan merchant QRIS oleh PJSP, salah satunya merchant yang ada di pasar tradisional.

Tak hanya itu, BI bersama PJSP sedang mengerjakan model Costumer Presented Model (CPM) pada implementasi QRIS. Dengan model CPM ini, nanti konsumen dapat melakukan transaksi pembayaran non tunai di jalan tol, transportasi umum dan toilet umum.

“Kami targetkan model CPM di tahun ini,” tambah Ricky.

Tak dapat dipungkiri, setiap teknologi butuh biaya infrastruktur. Agar tidak liar, BI menetapkan biaya merchant discount rate (MDR) untuk sistem QR sebesar 0,7% pada setiap transaksi di merchant. Sedangkan, biaya lebih murah khusus untuk transaksi di merchant seperti SPBU yakni 0,4%.

Ricky menambahkan, pihaknya akan meninjau terus perkembangan biaya MDR pada pembayaran lewat QR. Sejatinya, biaya Merchant Discount Rate (MDR) dapat kembali turun jika seluruh infrastruktur sudah terbangun di berbagai wilayah Indonesia. [kontan]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...