BI Tetap Waspadai Situasi Global Walau Rupiah Mulai Menguat

BI Tetap Waspadai Situasi Global Walau Rupiah Mulai Menguat

WinNetNews.com - Bank Indonesia menyatakan perlu kewaspadaan pada nilai tukar rupiah kendati kurs rupiah telah menguat atau meninggalkan level Rp14.000/US$.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan ketidakpastian mengenai kenaikan suku bunga AS atau Fed Fund Rate (FFR) dan ekonomi China yang tengah melambat masih membayangi mata uang di negara emerging market.

"Kenaikan FFR dipengaruhi oleh data ekonomi di AS. Data ekonomi Amerika yang mempengaruhi ekspektasi pada fed rate. Jadi fed rate dan data ekonomi AS masih mempengaruhi kurs di emerging market," ujarnya di Gedung DPR, Rabu (7/10/2015) malam.

Dia menuturkan ekspektasi kenaikan FFR akan kembali muncul dan naik lebih awal apabila data ekonomi Amerika menguat.

Namun demikian, saat ini data ekonomi AS sedang melemah sehingga berdampak pada konsensus suku bunga AS yang akan bergeser dari kuartal IV/2015 menjadi kuartal I/2016 dan bahkan bisa pada kuartal II/2016.

"Ini agak melemah, maka konsensus suku bunga AS itu bergeser dari kuartal IV jadi kuartal I bahkan kuartal dua tahun depan," kata Mirza.

Selain ketidakpastian FFR, ekonomi China yang masih melemah juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Perlambatan ekonomi China yang berlanjut diprediksi akan semakin menggerus permintaan ekspor sehingga mempengaruhi nilai tukar rupiah.

"Ekonomi china masih mlemah, berarti potensi ekspor masih melemah sehingga kemudian mempengaruhi nilai tukar kita," ucapnya.

Kendati demikian, tambah Mirza, ekonomi domestik Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Hal itu terlihat dari deflasi yang terjadi pada bulan September sehingga diproyeksikan gingga akhir tahun inflasi Indonesia berada di level 4%.

"Domestik kita membaik, inflasi sudah dengan angka deflasi di bulan September itu. Inflasi kita akhir tahun cuman 4%, lebih dikit bisa di 4,1% sampai 4,2%," tutur Mirza.