BKPM Rayu Investor Jerman Tanam Modal di Sektor Farmasi

BKPM Rayu Investor Jerman Tanam Modal di Sektor Farmasi

WinNetNews.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengundang investor Jerman untuk membenamkan modalnya di Indonesia. Undangan tersebut disampaikan langsung oleh Franky seiring dengan kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Eropa.

Franky sendiri sedang berada di Berlin, Jerman. Dalam kunjungan tersebut, dia mengundangprodusen farmasi Jerman untuk investasi baru maupun memperluas investasi di Indonesia. Jerman sendiri merupakan sumber investasi terbesar ke empat di dunia di sektor farmasi dengan nilai US$ 4,33 miliar.

Franky menjelaskan, pasar untuk farmasi di Indonesia sangat besar. Pada tahun 2018, diperkirakan pasar untuk farmasi naik dua kali lipat dibanding tahun 2013.

"Pasar di Indonesia berpotensi untuk tumbuh dua kali lipat pada 2018 dibandingkan 2013, dan diperkirakan berada di peringkat 20 besar dunia yang didorong oleh tumbuhnya masyarakat kelas menengah," kata dia dalam siaran pers, Jakarta, Minggu (17/4/2016).

 

Dia mengatakan, healthcare spending per kapita Indonesia naik dari US$ 61 pada tahun 2008 menjadi US$ 108 pada tahun 2012. Angka itu masih rendah dari Filipina US$ 119, Thailand US$ 215, Malaysia US$ 410.

Franky berharap dengan kebijakan membuka 100 persen industri bahan baku ‎obat dapat menggairahkan sektor farmasi.

"Selain itu peningkatan investasi di bidang farmasi bahan baku obat, juga diharapkan akan mendorong investasi di bidang farmasi lainnya yaitu, industri farmasi obat jadi. Karena pelaku industri obat jadi memiliki pilihan bahan baku dengan harga yang lebih rendah dan mengurangi impor bahan baku untuk industri obat jadi," jelas dia.

Menurut data BKPM, komitmen investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) disektor farmasi pada tahun 2015 mencapai Rp 5,14 Triliun, naik dibandingkan tahun 2014 sebesar Rp 2,47 Triliun.

Sementara komitmen investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor farmasi pada 2015 mencapai US$ 106 juta, naik dibandingkan tahun 2014 sebesar US$ 46 juta.

Sumber&Foto dari Liputan6, Jakarta